Showing posts with label CerBung. Show all posts
Showing posts with label CerBung. Show all posts

10 March 2014

The Unforgettable Love (chapter I)





Cinta Pandangan Pertama

28 September 2001

Sore itu kulihat seorang gadis berdiri di sebrang ruanganku sambil memegang sebuah buku, rasa lelah terlihat diwajahnya. Saat itu aku ikut organisasi perkumpulan pengusaha yang mengadakan seminar di salah satu hotel berbintang di Jogja. Melihat gadis tadi, terbesit rasa iba dalam hatiku. Aku mendekatinya seraya membawakan sebuah kursi.
“Mau duduk?” Kataku sambil menaruh kursi disampingnya.
“Iya.” Jawabnya.
“Pake aja kursiku, soalnya kalo kerja aku ga duduk.”
“Oke, makasih ya.”
“Sama-sama."
Tampak senyum manis terpancar dari wajahnya, sesaat aku terbuai dengan senyuman itu hingga aku tersadar harus menggandakan materi seminar. Mesin photocopy yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat gadis itu berada membuat aku sesekali memandangnya. Senyum, tawa dan gerak-geriknya memancarkan kecantikan yang membuatku kagum. Dengan ramah, dia menawarkan produk fashion dari Butik tempat dia bekerja. Aku terpana! Ooh tidak, mungkinkah aku jatuh cinta pada pandangan pertama?
Akhirnya urusan per-photocopy-an selesai juga, kuhisap sebatang rokok untuk menghilangkan penat dan kali ini kuberanikan diri mendekati gadis itu lagi.  Kupikir kesempatan tak akan datang dua kali, mungkin saja besok aku tak bertemu dia lagi. Kami pun berkenalan. Namanya Nina, tak terlihat rasa canggung pada dirinya meski kami baru saja kenal. Kami mengobrol cukup lama, dan akhirnya dia berkata
“Ini nomor telepon kantorku, kalo mau telepon antara jam 12.00 – 13.00 ya”
“Oke.” Jawabku.


Seminggu kemudian. 
“Hallo…” terdengar suara diseberang pesawat telepon.
“Hallo, bisa bicara dengan Nina? Kataku.
“Saya sendiri. Ini siapa?”
“Fauzan”
“Hai, apa kabar?”
“Baik. Gimana kabarmu?”
“Alhamdulillah baik.”
“Ga sibuk, kan?”
“Ga kok, kan jam istirahat”
“Udah makan siang?”
“Belum, tapi tenang aja aku udah bawa bekal makan siang, jadi ga perlu keluar kantor.”
“Maaf ya kalo aku ganggu waktu istirahatmu. Kapan-kapan boleh ketemu kamu ga?” “Boleh. Datang aja kesini pas jam istirahat.”
Tiba-tiba terdengar suara pintu box telepon umum diketuk dari luar dan tampak seorang laki-laki berdiri dengan wajah kesal.
“Nina, udah dulu ya. Makasih udah mau ngobrol sama aku.”
“Iya sama-sama, makasih juga udah mau telepon aku.”
Telepon pun kututup, aku buru-buru keluar dari box dan berjalan kearah gerbang kampusku yang terletak di wilayah Barek.

13 Oktober 2001

Kami telah janjian untuk ketemu hari itu, tepat satu hari setelah hari ulang tahunnya.
“Hmmm… mau makan dimana?” Ucapnya.
“Terserah kamu, kan kamu yang tau daerah ini.” Jawabku.
“Ok. Kamu suka burger?”
“Suka.”
Kami pun berjalan menuju sebuah tempat makan yang khusus menjual burger, tak jauh dari tempat dia bekerja. Kami memilih tempat duduk. Dia tersenyum sambil menawarkan menu apa yang akan kupesan, lalu dia beranjak dari kursi dan menyerahkan kertas pesanan ke pelayan yang berdiri dekat kasir. Sementara itu aku merogoh kantong celana untuk memastikan sesuatu sebelum dia kembali ke kursinya. Sembari menunggu pesanan datang, kami mengobrol dan ….
“Selamat ulang tahun ya..” Kataku sambil meraih tangannya dan menggenggamnya. Aku keluarkan sebuah cincin perak dari kantong celanaku dan memasangkan di jari manisnya.
“Makasih ya..” Katanya. Dia tersenyum, tersipu malu.
“Sama-sama.” Jawabku.
Genggaman tanganku terlepas seiring datangnya pelayan yang membawa pesanan kami. Setelah burger habis dan sebelum kami berpisah, aku berkata padanya…
“Hmmm… kamu mau ga jadi pacarku?”
Sesaat dia terdiam, lalu berkata..
“Maaf… aku ga bisa jawab sekarang, datang aja dulu ke rumahku nanti aku kasih tau jawabannya.”
Aku menyetujuinya, kami janjian untuk bertemu di halte bus besok. Setelah dia membayar makan siang kami sebagai traktiran di hari ulang tahunnya, kami pun berpisah. Dia harus kembali bekerja.

14 Oktober 2001

Aku berjalan dari kos menuju utara kampus Kehutanan UGM untuk menunggu bus kota yang kearah Wirobrajan. Peluh mulai membasahi dahi dan tubuhku karena cuaca hari itu cukup panas. Bus yang aku tunggu pun datang dan membawaku ke Wirobrajan. Sesampainya disana Nina belum kelihatan hingga beberapa menit kemudian aku melihatnya turun dari sebuah bus dan berjalan kearahku.
Kami bergegas menaiki bus Jogja – Wates dan duduk berdampingan karena kebetulan ada 2 bangku yang kosong. Jantungku berdegup kencang, jujur saja aku merasa gugup duduk bersebelahan dengannya, apalagi saat secara tak sengaja kami bertatapan dan lagi-lagi aku terpana melihat senyum manisnya. Aku juga tak sabar ingin mengetahui apa kira-kira jawaban dia tentang pernyataanku kemarin.
Kami turun di pertigaan PLN. Nina memberitahukan alamat rumahnya dan menyuruhku untuk naik ojeg duluan. Aku menuruti saja apa katanya.  Abang tukang ojek membawaku sampai di depan rumah Nina.
“Permisi…!” Kataku.
“Ya, mau nyari siapa? Kata seorang wanita dari dalam rumah.
“Ninanya ada, mba?”
“Oohh.. dia lagi ke Jogja, tapi sebentar lagi juga pulang. Ayo masuk dulu.”
Ternyata wanita itu adalah kakaknya. Dia menanyakan namaku dan mengajakku mengobrol beberapa saat hingga akhirnya Nina datang, dia dibonceng seorang laki-laki dengan motor tua berwarna merah yang ternyata itu adalah teman kakaknya.
“Hai, udah lama nunggu?” Kata Nina.
“Ngga, baru aja kok.” Jawabku.
Kami bersandiwara di depan keluarga Nina, seolah-olah aku dan Nina tidak berangkat bersama. Aku berbincang bersama Nina dan keluarganya sampai sore, aku pun pamit pulang berbarengan dengan teman kakaknya tadi.

16 Oktober 2001

Hari itu aku menelepon Nina di tempat kerjanya. Setelah berbasa basi menanyakan kabar, kuberanikan diri menanyakan jawaban dia atas pernyataan cintaku yang masih di“gantung”nya.
“Oiya… tentang pernyataanku waktu itu, gimana jawabanmu?”
“Hmmm…iya, aku mau jadi pacar kamu.”
“Serius? Kamu yakin ama jawabanmu itu?”
“Serius! Karena kamu udah mau memenuhi permintaanku untuk datang kerumahku dan menemui keluargaku. Itu udah tanda bahwa kamu emang serius.”
“Aku emang ga pernah main-main dalam menjalani hubungan.”
“Iya, aku percaya.”
“Terima kasih atas kepercayaanmu.”
“Sama-sama.”
“Maaf ya, aku harus ke kampus, ada kuliah nih!”
“Oke, makasih udah nelpon aku.”
“Sama-sama, makaasih juga atas jawabannya.”
Dengan perasaan girang bukan main aku berlari masuk lewat gerbang belakang kampus. Sepanjang menyusuri koridor aku terus saja tersenyum layaknya orang gila yang baru saja kabur dari rumah sakit jiwa.

31 December 2013

Bizarre Love [NOT] Triangle Part 2





Siang itu… surya membelai bumi…
Ku terima sebuah undangan…
Ku buka dan ku baca…
Sampul berwarna merah…
Ada namamu…
Ku berlinang air mata
Ku harap kau bahagia…
Dengan gadis pilihan orangtuamu…
Biarlah ku mengalah…
Demi keutuhan engkau dan dia…
Walau hati ini luka…
Sendiri lagi… sendiri lagi…
Tanpa dirimu disisiku…
Sendiri lagi… sendiri lagi…
Ku coba untuk melupakanmu…
Sudah suratan harus begini…
Oh Tuhan tabahkanlah hati ini…

Hahaha… Sebenernya lagu ini ga ada hubungannya dengan cerita yang akan di tulis, Cuma tiba-tiba aja terngiang lagu Nike Ardila – Biarlah ku mengalah. Jadi inget pernah nyanyi lagu itu pas siang-siang pulang sekolah kelas 5 SD sambil jalan pepanasan turun dari angkot menuju rumah.
Kembali ke laptop!
Siang itu Via terkejut mendapati sebuah message di whatsapp. Sebuah nama tertera di layar tabletnya.
Tito

Pikiran Via pun secara otomatis flashback ke masa lalu. Mulai dari pertama bertemu di bandara, jalan-jalan bareng, berantem, kebiasaan bohongnya, kebiasaan menghilangnya sampai akhirnya harus berpisah tanpa kata di stasiun.

Tito: “Maaf ya beib lama gk ngabarin”

Wow… yang selama ini hilang bagai ditelan bumi, tiba-tiba muncul. Entah kenapa terbesit dalam pikiran Via kalau Tito sudah menikah, tapi Via sendiri masih ragu akan dugaannya itu. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Via membalas.

Via: “Sibuk banget kaaah? Atau udah merit? Hehehe”

3 menit kemudian ada balasan.
Tito: “Sibuk kerja sama tidur. Hotel lagi rame banget. Kemaren sempet sakit juga. Iya beib, maaf banget yaaa. Bukan gk mau komunikasi, beib. Cuma berharap gimana kalo aku udah nikah? Apa masih kaya gini? Apa my beiby masih anggap aku “my beiby” seperti yang aku lakuin?”

Dan chatting-an pun berlanjut.
Via: “Uhmm.. mana aku tahu kalo sakit segala. Ooh jadi beneran udah nikah?”

Tito: “Gimana kabar disana?”

Via: “Kabarnya sehat. Jadi beneran udah nikah?”

Tito: “Alhamdulillah kalo sehat. Akhir tahun pulang ke rumah gk? Kayanya ada yang abis bikin rumah nih. Bangunnya dmn?”

Via: “Di deket rumah mama. Iiih kok ga di jawab sih. Ngaku aja kali, kejujuran itu lebih berharga daripada kebohongan yang paling indah.”

Tito: “Oalah bangun rumah disana to. What if I say yes or no?”

Via: “Kalo emang udah, ya Alhamdulillah.”

Tito: “Hmmmmmm… Pelarian atau penantian tak kunjung usai ya?”

Via: “Maksudnya gimana?”

Tito: “Ya udah buat PR aja.”

Via: “Hmmm…udh kebanyakan PR! Ya udah kalo ga mau jelasin, padahal tadinya aku mau bilang sesuatu.”

Tito: “Mau bilang apa? Ya bilang aja beib, semisal salah ngomong juga gk apa-apa. U always be my beiby.”

Via: “Ogah..! Aku nanya aja belum di jawab.”

Tito: “Yaelah, udah dikasih clue-nya, dipilih aja salah satu beib.”

Via kembali me-review message sebelumnya dan 2 menit kemudian dia membalas…
Via: “Oalahhh…maksudnya mau bilang “Aku udah nikah, tapi aku ga mau bilang coz takut my beiby perasaannya jadi berubah ke aku. Aku akhirnya nikah karena pelarian atau penantian yang tak kunjung usai. But don’t worry coz U always be my beiby. Begitu kaaaaaaaaaaaaah?”

Tito: “Woooowww…. Tepuk tangaaaaan”

Via: “Yaelaaah ngaku begitu doank susah amat. Selamat ya, beib..”

Tito: “Mesti dikasih selamat ya? :-( Hmmm..”

Via: “Kan selamat itu doa, biar selalu selamat dan sehat. Trus jadinya nikah sama mba2 yang dulu itu?”

Tito: “Sama simbah2!”

Via: “Diiih ditanya malah kaya gitu jawabnya. Tanggal berapa nikahnya?”

Tito: “Emang penting ya, beib?

Via: “Penting doooonk, kan biar tahun depan aku bisa ngirim kado.”

Tito: “Hadeehh, gk usah repot-repot. Tanggal 32!”

Via: “Iiiih yang bener atuh…”

Tito: “Hmmm… terserah my beiby aja mau tanggal berapa. Pilih aja tanggalnya!”

Begitulah percakapan itu berakhir "menggantung" tanpa ada kejelasan.
Via akhirnya memutuskan untuk membuka Facebook, padahal selama ini dia sangat tidak berani untuk membuka FB-nya Tito karena takut bila melihat hal-hal yang tidak seharusnya dia lihat. Kali ini rasa penasarannya lebih besar dari rasa takutnya. Dan benar saja, ternyata Tito sudah menikah sejak 6 bulan yang lalu. 
Uwoooww !!!
Via menarik napas panjang, kemudian dia tersenyum sambil membatin…
 “Tuhan sudah mengatur segalanya dengan baik dan apapun yang telah terjadi pasti itu juga yang terbaik.”
 
^_^ 

18 May 2011

Backpackeran ke BALI Part 1

“Ughhh… Pengeeeenn banget pergi backpackeraaaan ke Bali!!!”
Mengingat:
Pikiran sudah penat dengan pekerjaan dan beberapa hal yang lumayan memenuhi ruang di otak.
Menimbang:
Bulan April tanggal 22 adalah hari libur, long weekend dan katanya hari Sabtu adalah hari Saraswati.
Memutuskan:
Tanggal 22 April 2011 berangkat backpackeran.

Yeaaayy… asyiiik!!! \(‘o‘)/
Untuk ketiga kalinya aku akan mengunjungi Bali lagi. Sore itu cuaca di Jogja cerah, meski siangnya sempat hujan selama 1 jam. Sebelum berangkat aku pergi ke 7soul untuk mencari tas Ouval lalu ke Phone Market sebentar. Sekitar pukul 7 PM WIB aku berangkat ke bandara, check in, lalu masuk ke ruang tunggu. Menurut jadwal pesawat take off pukul 8.40 PM WIB. Aku pikir jadwalnya on time, eehhh... tiba-tiba diumumkan bahwa pesawatku delay.



Yaahh.. delay deh! :( Akhirnya aku harus menunggu selama 1 jam lagi. Hoaaahmmm… rasa kantuk pun melanda, sepertinya kantong dibawah mata sudah mulai terlihat. Tampak antrian penumpang Lion yang akan menuju Bali berbaris untuk mengambil snack yang disediakan oleh maskapai tersebut. Tak lama kemudian aku tergerak untuk melangkahkan kaki dan ikut berdiri dalam antrian. Setelah mendapat 1 dus snack dan 1 gelas air mineral, aku pun kembali duduk. Kubuka kotak snack tadi, isinya hanya 1 bungkus roti, tidak kumakan, hanya kulihat saja, padahal jujur saja malam itu sebelum ke bandara aku hanya makan sedikit, tapi entah kenapa aku tidak merasa lapar.
“Ting tong ting tong… Penumpang Lion Air JT 0568 tujuan Denpasar Bali dapat memasuki pesawat melalui pintu 1” Aaahh… akhirnya pukul 9.45 PM WIB suara itu ku dengar juga, lalu aku bersegera naik ke pesawat, tepatnya di seat 25B. Perjalanan Jogja – Bali di tempuh sekitar 1 jam. Perjalanan tidak terasa karena selama di pesawat aku tidur J, sekitar pukul 11.45 PM WITA akhirnya sampai di Bandara Ngurah Rai. Di parkiran bandara aku bertemu seorang teman, kayanya sih pernah ketemu tapi ga pernah merhatiin yang mana orangnya. So, baru kali ini aku bertemu dan berbicara langsung dengannya. Meski agak kikuk, tapi mau tak mau aku harus duduk di boncengan motor miliknya. Motor Vespa itu akhirnya meluncur dari parkiran Bandara Ngurah Rai menuju ke Karangasem melewati jalanan sepi dan beberapa kali melewati jalan yang kanan kirinya ppohon-pohon besar. Sejam kemudian sekitar pukul 1.30 AM WITA sampailah aku di penginapan, tetapi baru bisa terlelap pukul 2.30 AM.

Zzzzzzzzzzz………..

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing…!!!!!!! Alarm HP-ku berbunyi menandakan pukul 5 AM WITA. Aku terbangun, mandi, dan langsung sholat subuh. Oiya roti semalam kan belum aku makan, lumayanlah buat sarapan meski ada beberapa ekor semut di dalamnya. Rencana di hari pertama adalah mengunjungi sekolah SLB, karena di sana akan mengadakan upacara Saraswati. Awalnya aku mau pakai baju adat tapi ga jadi, pakai kaos aja deh. Ok, jam 7.30 AM WITA aku sudah siap berangkat dan menunggu temanku itu datang. Hmm…tepat jam 8 AM WITA dia datang.

Whaaaattt? Tiba-tiba ada kabar bahwa upacara Saraswati sudah selesai. Uuuhh..lemes deh rasanya, secara tujuanku kesana kan untuk meliput acara itu
Meski begitu, kami berdua tetap berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah tampak kerumunan beberapa orang pria berpakaian adat sedang duduk di dekat pintu gerbang. “Hmm..tampang mereka masih muda sekali”, batinku. Kami pun berkenalan. Ada Putu Surya, Wayan Samplag, Agus Sutarjaya, Putu Suardana, dan Ikhsan.

Wealaaahhh, ternyata aku dikerjain, sebenarnya upacara Saraswati belum di mulai. Hmm..masih setengah jam lagi. Sambil menunggu, aku sambi foto-foto selfie dengan beberapa murid.

Oiya… ada seorang guru senior namanya Bu Tri Yanti yang menyambut hangat kedatanganku. Beliau memeluk pundakku dan bercerita bahwa sebenarnya beliau orang Jogja, namun sudah lama tinggal di Bali karena bekerja di sekolah itu dan mendapat suami orang sana. Beliau juga mengenalkan aku pada beberapa guru senior, termasuk Pak Kepala Sekolah yang samah karena mau mengambilkan aku kursi untuk duduk ketika upacara Saraswati berlangsung padahal yang lain duduk di bawah, di depan pura.

Saraswati adalah nama dewi yang menurut orang Hindu dipercayai sebagai dewi ilmu pengetahuan. Upacara ini diadakan pada hari Sabtu setiap 210 hari sekali sebagai wujud rasa terima kasih kepada Sang Pencipta atas turunnya ilmu pengetahuan. Pada hari Saraswati hampir seluruh sekolah di Bali tidak ada kegiatan belajar mengajar. Para guru dan murid berangkat ke sekolah dengan memakai pakaian adat.


Tepat pukul 09.00 WITA upacara Saraswati pun dimulai. Pura yang sudah dihias dengan beraneka ragam bunga, buah dan tak ketinggalan seekor babi guling. “Glekkk”. (Hihihi...kalau kata temanku, babi guling Gianyar terkenal paling uenaaak). Pendeta pun mulai membacakan doa-doa diiringi musik. Para guru dan murid berkumpul di depan pura. Mereka duduk menghadap pura dan mendengarkan doa yang dibacakan. 30 menit kemudian tampillah 6 murid yang menari dihadapan para jamaat selama hampir seperempat jam. Tarian diakhiri dengan para penari masuk kedalam pura dan mengelilinginya. Setelah tarian selesai, doa dilanjutkan lagi kemudian ditutup dengan pembagian air suci oleh pendeta kepada para jamaat. Karena rasa penasarannya, temanku pun ikut duduk diantara barisan jamaat agar bisa diperciki air suci dan meminumnya. (Itu bocah aneh-aneh wae. Hahaha…)

Selesai upacara, semua aneka makanan persembahan dibawa masuk ke ruang guru. Siapapun boleh memakannya. Bu Tri mengajakku masuk dan berkata “ayo mba, ambil aja apa yang dipengenin”. “Iya, terima kasih Bu...”, aku manjawab. Sementara orang-orang sibuk membereskan makanan dan buah-buahan, aku berjalan ke ruangan kepala sekolah. Tampak 2 orang guru sedang sibuk mengiris-iris babi guling untuk dipotong kecil-kecil.

Wohooo… it’s time for lunch!!!

Aku beserta para guru dan murid yang beragama islam makan di ruang guru, menyantap sate kambing. Sementara yang lain ber-megibung-ria di teras kelas yang sudah digelari tikar. Megibung hampir mirip dengan kembulan atau bancakan kalau di Jawa, yaitu makan bersama membentuk lingkaran, bedanya dalam megibung ini nasi dan lauk ditaruh di sebuah tampah besar kemudian dimakan bersama (1 grup megibung terdiri dari 6 orang, harus 6 orang) langsung dari tampah itu dan apabila ada salah seorang yang sudah selesai makan, maka dia tidak boleh berdiri karena kalau berdiri, 5 yang lainnya harus menghentikan makannya.
PP, Pak Kepala Sekolah, Bu Ayu (guru tari), dan 3 orang guru lainnya berada dalam 1 grup megibung. Ada 5 grup megibung; 3 grup guru dan 2 grup murid.



Sementara menunggu temanku menyelesaikan makannya, aku bermain dengan anak-anak yang sudah selesai makan. Belajar beberapa gerakan tari, memotret ruang kelas dan beberapa murid. Karena sebagian besar murid menderita bisu tuli, aku juga sempat diajari sedikit bahasa isyarat. Oiya, aku tadi belum bilang ya kalau sekolah itu adalah sekolah SLB untuk SD-SMP-SMA. 

Megibung pun selesai, Pak Kepala Sekolah mempersilakan aku untuk berkeliling sekolahan. Ternyata guru-guru senior mendapat jatah rumah dinas di lingkungan sekolahan. “Wooooww..enak banget ya mereka, udah PNS dapat rumah pula”. Oiya, di sekolahan itu juga ada asrama untuk siswanya lho… terdiri dari ruang tidur siswi, ruang tidur siswa, ruang makan, dan dapur. Temanku menerangkan setiap bagian yang ada di sekolah itu, mulai dari asrama siswa, rumah para guru, lapangan olahraga dan kebun di belakang asrama. Setelah cukup berkeliling akhirnya aku pulang, tak lupa berpamitan dengan pak Kepala Sekolah yang saat itu sedang berdiri di depan rumahnya. Eehhh…dia kasih buah-buahan lho buat aku. 
“Terima kasih banyak Pak, saya sudah diberi kesempatan untuk meliput acara Saraswati disini” ujarku.
Kepala Sekolah menjawab “Iya, besok kalau ada upacara lagi main saja kesini. Mungkin bulan Juli kami akan mengadakan study tour, ikut saja.” 
Dan aku tidak menjawab, hanya tersenyum saja. "Mau-mau aja, tapi kan aku harus kerja." Kataku mbatin.

Sepanjang perjalanan pulang, aku masih senyum-senyum sendiri. 
“Hmm.. Senangnya pagi ini bisa bertemu dengan banyak orang baru yang baik hati dan ramah”. 


Bersambung…..

VuL oF LuV