Showing posts with label don't give up. Show all posts
Showing posts with label don't give up. Show all posts

29 October 2017

Mie Ayam

Vea berlari kecil mencari tempat berteduh. Hujan tiba-tiba mengguyur tanpa disertai mendung. Ya, akhir-akhir ini cuaca sedang tak menentu. Yang awalnya panas, seketika hujan dan mendadak reda. Namun, berbeda dengan sore itu. Sepertinya hujan akan awet. Vea lupa tak membawa payung. Mobil suaminya belum tampak, biasanya jam segini sudah datang menjemput. Mungkin terkena macet. Vea berteduh di tenda kaki lima dekat gerbang kantornya. Hari semakin sore, hujan belum reda, perut Vea keroncongan. Hehehe... Tercium aroma mie ayam, rupanya beberapa tenda kaki lima di sebelah Vea ada penjual mie ayam. Vea melangkahkan kaki menuju tenda tempat aroma mie ayam tadi berasal. "Pak  mie ayam 1 ya, ga pake micin!" kata Vea segera memesan. Hujan-hujan begini pas sekali makan mie ayam, pantas saja bangkunya hampir penuh. Vea kebagian bangku di pojok kanan depan. Sambil menunggu pesanannya datang, Vea melihat seorang gadis kecil duduk di sebelah gerobak mie ayam sambil bermain boneka. "Pak, nanti kalo bapak udah ga sibuk, bikinin susu ya!" ucap gadis kecil itu ke penjual mie ayam. "Iya, nak.. Nanti kita main lagi  bapak kerja dulu biar kita dapet uang buat beli susu." kata si penjual mie ayam sambil sibuk meracik beberapa pesanan.

"Ini, bu, mie ayam tanpa micin." kata penjual sambil menyodorkan semangkok mie ayam. Vea yang sudah kelaparan langsung menyantap makanan kesukaannya itu. "Hmm..lumayan juga rasanya." kata Vea dalam hati. Mie ayam inu baru saja mangkal di dekat kantor Vea, makanya dia baru pertama kali mencicipi. Selama ini di warung tenda tersebut hanya ada tukang bakso, siomay, ketoprak dan gado-gado saja. Kurang dari 10 menit Vea menghabiskan 1 mangkok mie ayam. Hujan mulai sedikit reda, hanya tinggal beberapa pembeli saja yang masih tersisa. Berhubung suami Vea belum juga datang, Vea pun belum beranjak dari bangkunya, pikirnya mending dia numpang duduk disitu sambil nunggu daripada berdiri di pinggir jalan. Vea sibuk melihat update-an di wall instagramnya, namun tiba-tiba dia berhenti dan mendengarkan obrolan penjual mie ayam dengan anaknya. Kebetulan si penjual sedang tidak melayani dan pembeli lain sedang asyik menikmati makanannya. Sedari awal masuk ke tenda mie ayam, Vea tidak terlalu memperhatikan, tapi begitu dilihat lagi sepertinya dia kenal dengan penjual mie ayam itu. "Radit!" kata Vea, tiba-tiba bersuara, dan si penjual seketika menoleh ke arah Vea. "Lho..Vea..!" Si penjual mie ayam tadi juga tampaknya baru menyadari kalo itu Vea  teman SMAnya dulu.

Radit, cowo cakep idola para cewe di sekolah. Gayanya yang cool, modis, dan atletis bikin cewe-cewe meleleh. Radit ini pernah naksir Vea, tapi sayang saat itu Vea sudah punya pacar. Vea ingat beberapa kali Radit mencoba mencuri perhatiannya, tapi Vea hanya menganggap Radit sebagai teman saja. Setelah lulus sekolah mereka sudah tidak pernah ketemu lagi. 12 tahun berlalu sampai hari ini.

"Itu anak kamu, Dit?" tanya Vea.
"Iya, ini anakku, namanya Rania."
"Cantiknya... Mamanya kok ga ikut?" tanya Vea lagi.
"Ya beginilah nasibku, kena PHK akhirnya banting stir jualan mie ayam, istri pergi entah kemana, mungkin dia malu hidup susah, jadi mau ga mau anak harus ikut aku jualan." kata Radit sambil mengangkat Rania duduk dipangkuannya.
Vea jadi terharu mendengar jawaban Radit. Vea menghela napas panjang, dia bingung mau berkomentar apa. Dia sendiri masih tak percaya kalau cowo keren idola di sekolahnya sekarang jadi penjual mie ayam. Ya, begitulah cobaan hidup. Tak bisa di duga. Bisa jadi yang kaya jadi melarat dan yang tadinya melarat jadi sukses. Tapi salut buat Radit, dia mau melakukan ini tanpa minder, apapun pekerjaannya yang penting halal, hasilnya berkah, dan dikerjakan dengan ikhlas.
"Sabar ya, Dit.. Kamu lagi di uji, yang penting harus tetap semangat demi anakmu." kata Vea sambil jalan mendekati ke arah Radit duduk sekalian menyodorkan uang untuk membayar mie ayam.
"Ga usah bayar, Ve.. Biar aja, khusus buat kamu." kata Radit sambil tersenyum.
"Ga mau ah.. Kamu kan jualan. Lagian ini bisa buat beli susu anakmu. Oiya, siapa tau aku bisa langganan makan siang disini, lumayan dekat dari kantor." kata Vea.
"Oohh.. Kantormu disitu! Wah, berarti aku ga salah pilih tempat mangkal. Baru pertama kali jualan, aku pilih tempat ini dan ternyata deket kantormu." Radit tampak sumringah. Dia tak menyangka bisa ketemu lagi dengan cewe yang pernah ditaksirnya.
"Dit, sorry ya, aku pulang dulu.. Suamiku udah ngechat, katanya dia udah nunggu di dekat gerbang kantor. Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Daaahh.. Rania, tante pulang dulu ya!" kata Vea sambil melambaikan tangan dan bergegas keluar dari tenda mie ayam.

09 November 2016

Pengalaman Pertama ke Dokter THT

Sabtu, 5 November 2016 kepala terasa sakiiit cekot-cekot. Ini emang bukan pertama kalinya dan biasanya bisa berhari-hari. Ya, bener aja meski udah diminumin obat sakit kepala dari dokter Ony tapi sakitnya belum ilang. Saking sakitnya sampe nangis meringis nahan cekot-cekot yang luar biasa. Badan panas, ga kuat berdiri, dan hidung mampet. Teringat pesan dokter Ony, kalau hidung mampet suruh diuapin pake air anget. Malam itu, hasilnya tetap nihil. Pas ngaca, kok di dalam hidung ada bulatan merah yang menutupi saluran udara, apa itu yang namanya polip? Browsinglah, ehh nemu blog orang yang cerita kalo dia dulu kena polip tapi sekarang udah sembuh total karena pake beberapa obat. Berbekal dari info itu, beli deh obat yang sesuai dengan blog tadi. Sampe rumah langsung di coba ditetes ke hidung, rasanya bikin hidung panas dan berasa sampe tenggorokan. Akhirnya dipake buat tiduran, ga kerasa ketiduran sampe pagi. Minggu pagi masih sakit, mau libur ngajar tapi ga bisa karena udah janjian sama murid-murid mau tryout. Terpaksa nahan sakit lagi. Hiks... Minggu sore kepala masih sakit dan cekot-cekot, diputuskan pergi ke klinik dokter THT, tapi sayang hari Minggu ga buka praktek. Terpaksa ditahan lagi sampe Senin. Ya, Senin malam balik lagi ke klinik. Dokternya baru mulai praktek jam 19.00. Nunggu antrian ga lama, trus dipanggil. Dokter cek hidung, dia langsung masukin alat dari logam, panjang mirip tusuk sate. Sereeemm... Alat dikeluarin dari hidung, dokter bilang alergi karena konka hidung membesar. Ada beberapa hal yang bikin alergi; bisa udara dingin, bisa bulu kucing, bisa dari makanan, bisa juga debu (debu pun terbagi menjadi beberapa bagian, ada debu karena partikel udara kotor, ada debu akibat tungau, ada debu dari pembakaran tumbuhan misalnya batang pagi, dan debu lainnya). Untuk membuktikan ada polip atau ngga, dokter kembali memasukkan alat yang tadi ke dalam hidung lagi, tapi kali ini disertakan kasa basah. Kebayang itu rasanya ga nyaman banget, mana itu kasa di tinggal di dalam hidung selama 10 menit. Sementara menunggu, napas harus lewat mulut dulu. Tik tok tik tok tik tok.... 10 menit terasa lama sampai akhirnya kapas dikeluarkan dan diletakkan di meja. Alhamdulillah, kapasnya bersih tidak ada lendir seperti ingus. Dokter bilang tidak ada polip. Ya Allah, Alhamdulillah.. trus kenapa bisa sakit kepala sampai cekot-cekot? Ya itu tadi, pembesaran konka bisa menyebabkan sakit kepala. Hiks...ternyata dari dulu sering sakit kepala gara-gara itu to, kirain karena bekas jatuh dari motor tahun 2011. Oiya, dokter juga bilang kalau tulang hidungku miring, jadi yang sebelah, bila konkanya membesar hidung akan benar-benar tertutup, sehingga hidung menjadi mampet. Hmm...ada-ada aja ya. Baiklah kedepannya harus lebih hati-hati, biar ga kambuh lagi pusingnya. Asliiii ga nyaman banget. Tuhan memang ga main di blog, tapi aku yakin Tuhan melihat ketika aku mengetik ini. hehehe... Ya Allah, sembuhkanlah hamba...jauhkanlah dari segala penyakit. Aamiin...aamiin...yaa rabbal'alamin.

30 May 2016

Cinta Dalam Hati



Pikirku melayang melintasi tumpukan kenangan yang t'lah lalu, terhenti pada ingatan tentang seorang gadis.


Sebenarnya kita berdua dulu satu sekolah, namun meski aku cukup populer di sekolah nampaknya dia tidak mengenalku. Ya, aku seorang anak band yang bisa dikatakan gaul dan disebut artis. Hahaha.. narsis dikit boleh lha ya. Dulu aku sering memperhatikan gadis ini, dia kerap diantar pacarnya sepulang sekolah. Berhubung aku juga masih punya pacar, ya.. aku tidak pernah mengajaknya berkenalan. Setelah lulus, aku tak lagi melihat atau bertemu dengannya. Orangnya biasa saja, tapi entahlah setiap memandangnya seperti ada sesuatu yang berbeda dari gadis lainnya. Unik! Mungkin itu kata-kata yang tepat untuknya. Rambutnya yang panjang, lurus, dan halus terurai lengkap dengan poni di bagian depan. Lesung pipi dan juga cara dia berjalan mengalihkan duniaku, dia tak tahu jika aku memperhatikannya. Dia seperti punya dunia sendiri yang membuatnya bahagia dan aku pun bahagia melihatnya tanpa harus dia tahu.


Setelah lulus dan entah dia melanjutkan sekolah dimana, tiba-tiba aku dapat kontaknya dari grup bbm. Langsung aku add dan kusapa. Tak disangka, dia merespon! Aku sangat bahagia. Aku perhatikan di grup dia komunikatif dengan anggota lainnya, friendly, easy going, supel, ahh pokoknya gitu deh. Komunikasiku dengannya makin intens, cerita tentang masa sekolah pun kuceritakan padanya dan memang benar, dia sama sekali tidak tahu aku siapa. Dia hanya tahu nama band-ku tapi belum pernah menonton saat perform. Aku merasa nyaman dengannya, hari berganti hari, bulan berganti bulan. Aku ingin sekali bertemu langsung dengannya, bukan hanya ngobrol di dunia maya. Akhirnya kita janjian ketemuan.


Di taman itu.. untuk pertama kalinya setelah sekian tahun tak melihatnya, aku terpana. Kami bersalaman. Hmm.. Aroma parfumnya membuatku melayang. Dia cantik, terlihat lebih anggun dan berkelas. Sebenarnya aku sedikit minder. Kami duduk di bangku taman bersebelahan, menceritakan masa-masa sekolah dulu hingga tak terasa hari mulai senja dan kami pun pulang.


Pertemuan pertama itu membuatku ketagihan ingin bertemu lagi. Selanjutnya, kami pergi ke pantai. Aku memberanikan diri menjemput ke kostnya setelah dia memberi tahu dimana alamatnya. Sore itu kami pergi ke sebuah pantai naik vespa kesayanganku. Dia tampak bahagia dan aku suka melihat senyum yang tak henti tergaris diwajahnya. Kami duduk dibawah pohon kelapa yang rindang, memandangi lautan sambil bercerita dan menikmati kelapa muda. Angin sepoi-sepoi mengacak-acak rambutnya yang tergerai indah. Dia berjalan ke air, aku mengikutinya dari belakang. Kami berlari saat ada ombak datang, bermain air, menulis di pasir, tertawa bersama, dan berfoto-foto. Kulitnya tampak memerah terkena sengatan matahari. Ketika kami akan kembali ke pohon kelapa tadi, aku spontan meraih tangannya. Aku gandeng dia, dia tersipu malu. Lalu kami kembali mengobrol sambil menyaksikan matahari terbenam dan aku terus menggenggam tangannya. Aahhh...bahagianya hatiku saat itu. Tubuh ini terasa ringan. Inikah rasanya jatuh cinta?


Sehari saja tak mendengar suaranya, aku rindu... aku galau... Dengan bangga aku ceritakan tentang dia pada semua teman akrab di kantor, teman main di rumah, juga orang tuaku. Apalagi ibu, orang yang sangat kucintai melebihi apapun di dunia ini. Ibuku ikut bahagia mendengar aku sudah menemukan pujaan hati.


Hingga beberapa bulan kemudian ketika aku bercerita pada ibu untuk serius dengannya dan mengatakan bahwa aku dan dia berbeda agama, ibu kaget, ibu marah! Ibu melarangku untuk meneruskan hubungan ini. Aku sedih dan terpukul. Aku cinta dia, tapi aku juga cinta ibuku. Aku bingung harus bagaimana? Ibu melarangku untuk bertemu dengannya lagi karena takut aku semakin mencintainya dan tak bisa lepas darinya. Aku mulai membatasi komunikasiku, tidak ada lagi telpon, hanya bbman saja. Jujur aku berat sekali melakukan ini. Dia mulai curiga mengapa aku seperti menjauh, aku bilang aku sibuk dengan urusan pekerjaan. Seperti yang aku tahu dia juga mencintaiku, meski aku mulai cuek tapi dia tetap memberi perhatian. Aku semakin berat, rasanya seperti ada pisau yang menancap di tenggorokan.


Walau perih, aku harus mengambil keputusan. Aku menjemputnya dan mengajak dia ke sebuah istana peninggalan raja. Kami berdua naik ke pelataran. Satu demi satu anak tangga kunaiki perlahan dengan napas panjang, "Mungkin kah ini keputusan yang tepat?" Tanyaku dalam hati. Sementara dia hanya diam, mungkin dia juga merasa ada sesuatu yang aneh. Sampailah kita di atas pelataran, duduk menghadap hamparan taman istana, sebelah kiri tampak pegunungan yang seperti menyambung dengan lautan disebelah kanan. Sang mentari telah condong di barat, mulai tenggelam dibalik pegunungan.


"Kamu baik-baik aja, kan?" Katanya bertanya padaku.


"Iya, aku baik. Kamu sendiri gimana?"


"Aku juga baik. Hmmm..tapi kenapa aku merasa ada yang beda, kamu ga seperti dulu." Dia berkata dengan terbata dan matanya mulai berkaca-kaca.


Kemudian dia berdiri dan meninggalkanku yang masih duduk di anak tangga paling atas..dia berjalan menuju tiang pelataran. Dia membelakangiku karena tak ingin aku melihatnya meneteskan air mata. Sejenak aku terdiam, lalu berjalan ke arahnya. Kubalikkan tubuhnya ke arahku. Air mata masih mengalir di pipinya. Kuhapus air matanya dan kurapikan syal yang melingkar di lehernya.


"Maafkan aku, aku rasa...aku bukan orang yang tepat untukmu. Sebenarnya awal bertemu denganmu...aku minder. Kamu terlihat begitu berkelas. Kamu pantasnya naik mobil, bukan naik motor panas-panasan denganku. Maafkan aku yang terlalu mencintaimu dan aku tak ingin hidupmu menderita jika bersamaku." Kataku sambil memegang pundaknya, sementara dia diam saja dan terus menangis.


Air matanya semakin deras, aku pun tak kuasa menahan air mataku sendiri. Aku mencium keningnya dan memeluknya erat. Kuantarkan dia pulang, tanpa berkata apa-apa lagi karena aku sudah tak tahan, rasanya seperti seribu pedang menghujam jantungku. Aku pergi begitu saja tanpa menoleh padanya. Aku hanya melihat dari spion dia masih melihat ke arahku hingga wajahnya tak tampak lagi di spionku. Sepanjang jalan aku menangis. Pikiran dan hatiku kacau. Apa yang baru saja kulakukan tadi? Apakah sikapku benar atau salah?


Sejak kejadian itu, aku tak lagi bbm dia meski sebenarnya aku ingin. Dia pun sama sekali tak mengirim bbm. Aku sakit selama beberapa minggu. Perasaan menyesal dan bersalah selalu menghantuiku, tapi aku sayang ibuku. Aku tetap harus hidup karena aku tulang punggung keluargaku.


Gadisku, maafkan aku. Maafkan aku telah membuatmu terluka. Semoga kau bahagia disana. Aku akan tetap mencintaimu selamanya meski hanya dalam angan, pikiran dan hatiku.


Love You

26 February 2015

Mulai Kurus

Udah sebulan ga nablet secara tabletnya masih eror. Nyoba diservisin di sekitar sini, tapi ga bisa. Mereka bilang harus dibawa ke Sams*ng centernya langsung di Banjar or di Jakarta. Iyuuuhhh kapan gue kesana ya? Doku lagi ga memungkinkan, kudu nabung dulu nih. Pengeluaran 2 bulan ini lumayan banyak buat bayar tanah, pajak, biaya balik nama, dll. Uhmmm mesti sabar sampe duit ngumpul. Eh, tapi mending beli baru aja kali ya. Hahaha... Xperia Z4 kayanya bagus tuh, pengalaman punya Sony udah lebih dari 7 tahun dan masih bagus kameranya, cuma baterainya aja pernah hamil dan harus ganti. Gara-garanya sering dipake telpon berjam-jam sambil di cas. 
Besok pengumuman lomba penurunan lemak niy. Mudah-mudahan aja bisa juara 1, lumayan dapat 1 jeti. Seminggu yang lalu timbang udah turun lumayan banyak. Lebih banyak dari tahun kemarin (pas ikutan lomba juga). Kalau tahun kemarin juara 2, ya kali aja sekarang bisa naik jadi juara 1 *ngarep banget* ^ _ ^
Orang-orang yang lihat siy bilangnya udah kurusan, uhmm...tapi aku pengen nurunin lagi paling ngga..45kg lah. Hahaha...kerempeng banget ga yah??? secara ini aja udah kepegang tulang belulangnya. Kok bisa ya? dulu tuh berat 40 kg kayanya ga kelihatan kerempeng deh. Masa ini 53 udah kelihatan kerempeng beuudd..
Sayangnya tablet rusak, jadi ga bisa pajang foto terbaru disini sebagai bukti.
Well, yang mau privat udah datang, nulisnya lanjut besok lagi.

06 January 2014

The Boys Part 3 (Kalau cinta jangan maksa)




Badanku dulu tak begini…
Tapi kini tak kurus lagi…

Kebayang ga sih tinggi 160cm dengan berat badan kurang dari 40kg?
Kurus banget kan?
Rambut panjang berponi rata diatas alis, udah mirip helm.
Kulit item ngga, putih juga ngga, tengah-tengah gitu deh.
Gaya tomboy dan sporty, lengkap dengan lesung pipi yang bener-bener ada di tulang pipi, bukan di pipi.

Kalo pas kelas 1 SMP aku ke sekolah jalan kaki or naik bus, nah pas kelas 2 udah mulai males jalan kaki. Lebih pilih naik sepeda atau naik bus. Jarak dari rumah ke sekolah sekitar 1km, semisal naik bus cuma bayar Rp 100,- aja. Berhubung di rumah ada sepeda punya tante yang udah usang dan tak terpakai, aku pikir kenapa ga dibenerin aja kan lumayan buat dipakai sekolah. Cling! Bukan sulap bukan sihir, sepeda federal punya tante tampak seperti baru. Cat yang mengelupas udah ga kelihatan. Awalnya warna abu-abu dan biru, berubah jadi warna abu-abu dan oranye. Lebih ceria pastinya!

Ke sekolah sambil naik sepeda rupanya lebih menyenangkan, ga terlalu cape dan lebih cepat nyampe. Sekitar 2 bulanan naik sepeda, aku baru nyadar kalo setiap mau nyebrang di depan sekolah pasti di dekat gerbang selalu berdiri seorang anak kecil. Cowo imut, putih dan yang paling mencolok adalah bibirnya yang merah merekah. Serius! Mirip ama Macaulay Culkin pemeran Kevin dalam film Home Alone. Hahaha…

Awalnya aku pikir itu suatu kebetulan aja. Kebetulan pas aku sampai sekolah, kebetulan tuh bocah lagi berdiri di depan gerbang. Tapi aneh banget kalo itu kebetulan karena kejadiannya setiap hari begitu dan sejak aku sadar kalo dia memperhatikan aku, aku pasti melihat mukanya saat melewati gerbang sekolah dan sebuah senyuman pun terpancar dari wajahnya yang imut.

Aku ga tahu dia itu siapa dan kelas berapa karena seingatku anak-anak seangkatanku (kelas 2) ga ada yang mirip dia. Rasa penasaran pun terjawab ketika salah seorang adik kelasku, yang ternyata teman sekelasnya memberikan aku sepucuk surat. Ya, lagi-lagi surat. Maklum pada zaman itu belum ada HP or BB. Hahaha…

Jam istirahat belum berakhir, aku masuk kelas dan membuka surat itu. Isinya begini :
Halo Kak, boleh kah aku berkenalan? Maaf kalau aku terlalu lancang mengirimkan surat ini.
Aku tahu aku ini masih kelas 1, tapi saat pertama melihat Kakak rasanya ada yang berbeda dan sejak saat itu, setiap pagi aku selalu menunggu kakak di gerbang sekolah.
Aku berasal dari Lampung dan saat ini aku tinggal di rumah pamanku. Berikut ini biodataku:
Nama : Doddy P. P. (sengaja aku singkat)
Alamat : …….. (di keep aja)
TTL : Lampung, 13 Desember 1987
Hobi : Main bola (whahahaha…ngekek banget baca ini)
Oiya, kalo boleh aku minta biodatanya Kakak ya, biar aku bisa mengenal Kakak lebih jauh.
Mohon maaf bila ada salah-salah kata.
NB : Aku tunggu balasannya.

(tanda tangan)
Doddy

Hadeuuhh… abis baca itu surat aku langsung ketawa cekikikan, lucu banget ada anak kecil udah berani ngirim surat, mana isinya biodata pula dan yang lebih parahnya tercantum HOBI : MAIN BOLA. Hahaha…

Teruuuss, dibalas ga suratnya?
Uhmm… dibalas donk, tapi ga pake nyantumin biodata segala. Cuma kata-kata seperlunya, yang intinya kalo mau berteman sih oke-oke aja.

Selepas dari surat itu, beberapa waktu kemudian ada surat lagi yang datang. Waktu itu yang membawa adalah salah seorang teman sekelasku.
“Nih, ada titipan dari anak kelas 2B!” Kata temanku.

“Siapa?” Kataku.

“Baca aja sendiri, kan ada namanya!” Kata temanku dengan nada kesal.

(Catatan kaki: sebenarnya temanku ini suka sama aku dan aku juga suka sama dia, tapi kami sama-sama jaim. Nah, ternyata yang mengirim surat itu (anak 2B) adalah sahabatnya. Sementara si sahabatnya ini ga tahu kalau temanku itu suka sama aku. Makanya waktu dia menyerahkan surat, tampangnya jutek banget. Hahaha…)

Untuk menjaga perasaan temanku, surat itu tidak aku baca di kelas. Aku berjalan ke belakang sekolah, depan toilet, disanalah aku membacanya. Isinya tentang pengungkapan perasaan sekaligus nembak! Tertanda Suprayitno. Hffttt… yang mana lagi ini orangnya, mana namanya terdengar ”mistis” pula. Selesai membaca, tanpa pikir panjang aku langsung mengambil segayung air dari kamar mandi. Aku celupkan surat itu sampai kertasnya hancur, lalu aku bentuk seperti bola dan ku lempar ke atas genteng sekolahan. Beres!!

Dua minggu kemudian, saat istirahat, aku lihat seorang cowo sedang mengintip di jendela kelasku dari arah parkiran sepeda (sebelah kelasku adalah parkiran sepeda). Tampaknya dia berusaha untuk memanggilku tapi aku pura-pura tidak mendengarnya, hingga beberapa temanku yang ada di kelas membantunya.
“Tes, itu dipanggil ama Prayit.” Kata salah seorang temanku.

Mau tak mau akhirnya aku menoleh ke arah cowo yang wajahnya terpampang di jendela. OMG! Jadi itu yang namanya Prayit, ga tinggi ga pendek, item dan agak gendut.
“Tes, kok suratku ga dibalas?” Kata Prayit.

“Ooh, belum sempet. Aku sibuk!” Jawabku dengan males-malesan, lalu aku menarik Ugi yang kebetulan ada disitu dan pergi ke kantin.

Beberapa hari kemudian, aku berpapasan dengan Prayit di dekat parkiran sepeda. Dia memberikan aku surat lagi. Surat kedua darinya berisi hal serupa dengan surat pertama dan surat kedua pun bernasib sama, aku celupkan ke air, aku bentuk seperti bola, lalu aku buang ke atas genteng sekolah. Karena merasa tidak nyaman ditagih terus, surat kedua aku balas. Dalam surat balasan aku menyatakan bahwa aku mau fokus belajar dan merasa lebih baik berteman saja. Setelah aku memberikan surat balasan padanya, keesokan harinya dia tidak masuk sekolah selama 3 hari berturut-turut. Salah seorang teman sekelasnya berkata padaku kalo Prayit stress gara-gara aku. Lha, kok aku? Aneh banget, itu mah dia sendiri aja yang bikin. Aku menolak bukan karna fisik lho ya, buktinya aku membuang surat pertamanya sebelum aku melihat wujudnya. Aku menolak karena menurutku isi suratnya terlalu memaksa, sementara aku aja ga kenal sama dia. Mas Sari yang udah kenal akrab aja aku tolak, apalagi ini. Ya kalo-kalo Prayit baca cerita ini, mudah-mudahan dia bisa mengerti. Piss Bro !!

Oiya, buat sekolah SMP ku…maaf kalo aku mengotori genteng. Sebenarnya bukan cuma 2 surat itu aja yang aku lempar ke genteng. Ada beberapa surat dari beberapa orang juga. Kebetulan SMP ku itu dekat ama SMK PGRI (sekolahannya mas Sari) dan SMK BOPKRI. Aku juga heran kenapa anak-anak di SMK tersebut banyak yang kenal aku, padahal aku ga pernah kenalan sama mereka dan beberapa dari mereka mengirimkan surat. Aneh-aneh deh isinya, tapi ya tetap seputaran perasaan. Berhubung aku ga kenal dan ga tau yang mana orangnya, cuma lihat namanya aja di surat, walhasil nasib surat mereka berakhir di genteng sekolahan. Hehehe…

Hikmah dari cerita kali ini adalah “Jangan terlalu memaksakan kehendak, hormatilah perasaan oranglain.”


Semua cerita tentang “Boy” ditulis kurang lebih seperti aslinya karena udah lama jadi agak lupa-lupa inget, tapi kalo intinya inget banget. Bukan bermaksud riya’ atau sombong, semua cerita ini ditulis hanya untuk mengenang masa lalu aja lho yaa...


14 June 2013

Lonely

smile, please!

Hoaaahhhmmm... ga tau kenapa hari ini rasanya sepi sekali, nonton TV ga ada acara bagus, dengerin musik lg ga mood, maen game bosen, mencoba tidur malah mimpi buruk jadinya sering terbangun karna kaget.

Ibarat masak, kaya ada bumbu yang kurang. Tapi apa ya?
Pengen nulis cerita pasti butuh waktu lama, padahal internet disini sering naik turun, mana kalo ngetik di tablet ga sebebas di laptop, terutama pas mau ngetik tanda baca.
Sakit perut juga menjadi salah satu faktor yang bikin mood ga karuan, bawaannya pengen tiduran tapi bentar lagi ada yang mau privat.

Ayo cha, semangaaaattt!!!
Entah kemana temen-temen yang biasanya kasih support, mungkin mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.
Kehidupan emang udah berubah. 
Hoaaahhhmmm...  *yawn*
Ayolah Cha, kamu harus bisa mengalahkan rasa malas itu.
Don't give up !!! percayalah semua akan indah pada waktunya!


VuL oF LuV