Showing posts with label Kisah Kusut. Show all posts
Showing posts with label Kisah Kusut. Show all posts

30 May 2016

Cinta Dalam Hati



Pikirku melayang melintasi tumpukan kenangan yang t'lah lalu, terhenti pada ingatan tentang seorang gadis.


Sebenarnya kita berdua dulu satu sekolah, namun meski aku cukup populer di sekolah nampaknya dia tidak mengenalku. Ya, aku seorang anak band yang bisa dikatakan gaul dan disebut artis. Hahaha.. narsis dikit boleh lha ya. Dulu aku sering memperhatikan gadis ini, dia kerap diantar pacarnya sepulang sekolah. Berhubung aku juga masih punya pacar, ya.. aku tidak pernah mengajaknya berkenalan. Setelah lulus, aku tak lagi melihat atau bertemu dengannya. Orangnya biasa saja, tapi entahlah setiap memandangnya seperti ada sesuatu yang berbeda dari gadis lainnya. Unik! Mungkin itu kata-kata yang tepat untuknya. Rambutnya yang panjang, lurus, dan halus terurai lengkap dengan poni di bagian depan. Lesung pipi dan juga cara dia berjalan mengalihkan duniaku, dia tak tahu jika aku memperhatikannya. Dia seperti punya dunia sendiri yang membuatnya bahagia dan aku pun bahagia melihatnya tanpa harus dia tahu.


Setelah lulus dan entah dia melanjutkan sekolah dimana, tiba-tiba aku dapat kontaknya dari grup bbm. Langsung aku add dan kusapa. Tak disangka, dia merespon! Aku sangat bahagia. Aku perhatikan di grup dia komunikatif dengan anggota lainnya, friendly, easy going, supel, ahh pokoknya gitu deh. Komunikasiku dengannya makin intens, cerita tentang masa sekolah pun kuceritakan padanya dan memang benar, dia sama sekali tidak tahu aku siapa. Dia hanya tahu nama band-ku tapi belum pernah menonton saat perform. Aku merasa nyaman dengannya, hari berganti hari, bulan berganti bulan. Aku ingin sekali bertemu langsung dengannya, bukan hanya ngobrol di dunia maya. Akhirnya kita janjian ketemuan.


Di taman itu.. untuk pertama kalinya setelah sekian tahun tak melihatnya, aku terpana. Kami bersalaman. Hmm.. Aroma parfumnya membuatku melayang. Dia cantik, terlihat lebih anggun dan berkelas. Sebenarnya aku sedikit minder. Kami duduk di bangku taman bersebelahan, menceritakan masa-masa sekolah dulu hingga tak terasa hari mulai senja dan kami pun pulang.


Pertemuan pertama itu membuatku ketagihan ingin bertemu lagi. Selanjutnya, kami pergi ke pantai. Aku memberanikan diri menjemput ke kostnya setelah dia memberi tahu dimana alamatnya. Sore itu kami pergi ke sebuah pantai naik vespa kesayanganku. Dia tampak bahagia dan aku suka melihat senyum yang tak henti tergaris diwajahnya. Kami duduk dibawah pohon kelapa yang rindang, memandangi lautan sambil bercerita dan menikmati kelapa muda. Angin sepoi-sepoi mengacak-acak rambutnya yang tergerai indah. Dia berjalan ke air, aku mengikutinya dari belakang. Kami berlari saat ada ombak datang, bermain air, menulis di pasir, tertawa bersama, dan berfoto-foto. Kulitnya tampak memerah terkena sengatan matahari. Ketika kami akan kembali ke pohon kelapa tadi, aku spontan meraih tangannya. Aku gandeng dia, dia tersipu malu. Lalu kami kembali mengobrol sambil menyaksikan matahari terbenam dan aku terus menggenggam tangannya. Aahhh...bahagianya hatiku saat itu. Tubuh ini terasa ringan. Inikah rasanya jatuh cinta?


Sehari saja tak mendengar suaranya, aku rindu... aku galau... Dengan bangga aku ceritakan tentang dia pada semua teman akrab di kantor, teman main di rumah, juga orang tuaku. Apalagi ibu, orang yang sangat kucintai melebihi apapun di dunia ini. Ibuku ikut bahagia mendengar aku sudah menemukan pujaan hati.


Hingga beberapa bulan kemudian ketika aku bercerita pada ibu untuk serius dengannya dan mengatakan bahwa aku dan dia berbeda agama, ibu kaget, ibu marah! Ibu melarangku untuk meneruskan hubungan ini. Aku sedih dan terpukul. Aku cinta dia, tapi aku juga cinta ibuku. Aku bingung harus bagaimana? Ibu melarangku untuk bertemu dengannya lagi karena takut aku semakin mencintainya dan tak bisa lepas darinya. Aku mulai membatasi komunikasiku, tidak ada lagi telpon, hanya bbman saja. Jujur aku berat sekali melakukan ini. Dia mulai curiga mengapa aku seperti menjauh, aku bilang aku sibuk dengan urusan pekerjaan. Seperti yang aku tahu dia juga mencintaiku, meski aku mulai cuek tapi dia tetap memberi perhatian. Aku semakin berat, rasanya seperti ada pisau yang menancap di tenggorokan.


Walau perih, aku harus mengambil keputusan. Aku menjemputnya dan mengajak dia ke sebuah istana peninggalan raja. Kami berdua naik ke pelataran. Satu demi satu anak tangga kunaiki perlahan dengan napas panjang, "Mungkin kah ini keputusan yang tepat?" Tanyaku dalam hati. Sementara dia hanya diam, mungkin dia juga merasa ada sesuatu yang aneh. Sampailah kita di atas pelataran, duduk menghadap hamparan taman istana, sebelah kiri tampak pegunungan yang seperti menyambung dengan lautan disebelah kanan. Sang mentari telah condong di barat, mulai tenggelam dibalik pegunungan.


"Kamu baik-baik aja, kan?" Katanya bertanya padaku.


"Iya, aku baik. Kamu sendiri gimana?"


"Aku juga baik. Hmmm..tapi kenapa aku merasa ada yang beda, kamu ga seperti dulu." Dia berkata dengan terbata dan matanya mulai berkaca-kaca.


Kemudian dia berdiri dan meninggalkanku yang masih duduk di anak tangga paling atas..dia berjalan menuju tiang pelataran. Dia membelakangiku karena tak ingin aku melihatnya meneteskan air mata. Sejenak aku terdiam, lalu berjalan ke arahnya. Kubalikkan tubuhnya ke arahku. Air mata masih mengalir di pipinya. Kuhapus air matanya dan kurapikan syal yang melingkar di lehernya.


"Maafkan aku, aku rasa...aku bukan orang yang tepat untukmu. Sebenarnya awal bertemu denganmu...aku minder. Kamu terlihat begitu berkelas. Kamu pantasnya naik mobil, bukan naik motor panas-panasan denganku. Maafkan aku yang terlalu mencintaimu dan aku tak ingin hidupmu menderita jika bersamaku." Kataku sambil memegang pundaknya, sementara dia diam saja dan terus menangis.


Air matanya semakin deras, aku pun tak kuasa menahan air mataku sendiri. Aku mencium keningnya dan memeluknya erat. Kuantarkan dia pulang, tanpa berkata apa-apa lagi karena aku sudah tak tahan, rasanya seperti seribu pedang menghujam jantungku. Aku pergi begitu saja tanpa menoleh padanya. Aku hanya melihat dari spion dia masih melihat ke arahku hingga wajahnya tak tampak lagi di spionku. Sepanjang jalan aku menangis. Pikiran dan hatiku kacau. Apa yang baru saja kulakukan tadi? Apakah sikapku benar atau salah?


Sejak kejadian itu, aku tak lagi bbm dia meski sebenarnya aku ingin. Dia pun sama sekali tak mengirim bbm. Aku sakit selama beberapa minggu. Perasaan menyesal dan bersalah selalu menghantuiku, tapi aku sayang ibuku. Aku tetap harus hidup karena aku tulang punggung keluargaku.


Gadisku, maafkan aku. Maafkan aku telah membuatmu terluka. Semoga kau bahagia disana. Aku akan tetap mencintaimu selamanya meski hanya dalam angan, pikiran dan hatiku.


Love You

25 April 2016

Memaafkan Sebelum Dimintai Maaf

Beberapa waktu lalu seorang nenek menitipkan pesan, "Tolong sampaikan pada Cha, Uti minta maaf karna dulu waktu Cha sekolah dan tinggal disini Uti ga pernah bawaain bekal."

"Uti, apapun yang Uti pernah lakukan ke aku...aku udah memaafkan dari dulu. Terima kasih untuk kebaikan Uti yang lainnya." Kata Cha dalam hati.

Tidak diperhatikan atau tidak dianggap mungkin bukan hal yang aneh, itu udah sering Cha alami sejak kecil. Disaat anak-anak lain mendapat perhatian lebih dari orangtuanya, sementara orangtua Cha sibuk dengan urusannya masing-masing. Bisa dibilang Cha kecil sudah terbiasa hidup mandiri. Dia sering mengikuti kegiatan di sekolahnya. Pramuka diikutinya sejak kelas 2 SD. Perlombaan menyanyi, PMR, dan senam SKJ hingga tingkat Provinsi. Dimana setiap Cha tampil dalam perlombaan nyanyi atau senam, orangtuanya tak pernah menontonnya padahal Cha berharap mereka men-support-nya. Hanya sekali mamanya datang menjenguk ke bumi perkemahan saat Cha ikut lomba PMR kelas 4 SD. Meski demikian Cha tetap menyayangi kedua orangtuanya. Teringat saat pembagian raport, beberapa hari sebelumnya wali kelas sudah memberikan surat edaran agar orangtua hadir untuk mengambil raport. Lagi-lagi kedua orangtua Cha sibuk dengan pekerjaannya, Cha mengintip dari balik pintu kelas...melihat semua orangtua temannya datang untuk mengambil raport anak mereka. Cha sedih..dia berdiri diluar sampai pembagian selesai. Setelah semua orangtua pulang, Cha memberanikan diri untuk masuk dan menemui wali kelas, "Bu, orangtua saya kerja jadi mereka tidak bisa hadir. Bolehkah saya mengambil sendiri raport saya?". Ibu wali kelas berkata "Surat dari ibu sudah disampaikan belum? Pertemuan tadi penting karena ada beberapa hal yang orangtua harus tahu.". "Sudah saya sampaikan, bu..". "Baiklah kalau begitu ini raportmu.". "Terima kasih, bu.". Kesedihan terobati saat Cha membuka raport dan mendapati bahwa dia ranking 2.

Cha kecil akhirnya melanjutkan sekolah ke Jogja dan tinggal bersama Utinya. Utinya terkenal sangat disiplin dan tegas. Setiap pagi Cha bangun jam 4, sholat, masak nasi, menyapu seluruh rumah, mandi, membuat sarapan (bila tidak sempat, hanya makan nasi dan kerupuk saja), lalu berangkat sekolah. Sepulang sekolah Cha makan, tidur, dan sorenya menyapu halaman, merapikan tanaman, dan momong sepupunya. Berat badan Cha turun drastis beberapa minggu tinggal di rumah Uti. Dengan tinggi 160, beratnya tidak sampai 40kg. Rok seragam sekolah semuanya kegedean. Saat SMP Cha juga sering ikut pramuka, lomba bakti husada, ekskul, dan beberapa seminar di Kabupaten. Di lingkungan tempat tinggalnya Cha juga cukup terkenal karena ikut anggota karang taruna dan sering ikut pentas teater untuk acara-acara kepemudaan, tapi lagi-lagi belum pernah ada saudara atau keluarganya yang menonton saat Cha tampil. Begitu juga saat SMA, dimana orang berduyun-duyun datang untuk menonton lomba baris berbaris.. dari awal Cha ikut lomba tonti beberapa kali sampai regunya menjadi juara 1 se-kabupaten dan juara 8 se-provinsi, belum pernah sekalipun keluarganya datang untuk men-support-nya.

Anak kecil yang butuh dukungan dari keluarga terdekat, tak bisa berbuat apa-apa. Cha always happy, dia memiliki teman laki-laki lebih banyak daripada teman perempuan. Saat SD dia akrab dengan Putri dan Egi. SMP akrab dengan Ugi dan Wuri. SMA akrab dengan Sita dan Maya. Hanya itu saja teman perempuan yang akrab, lainnya laki-laki semua. Saking banyaknya teman laki-laki tak jarang Cha mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman perempuan lainnya karena dikira akrab dengan gebetan atau pacar mereka, padahal Cha sama sekali tidak ada perasaan apa-apa. 

Ban sepeda Cha pernah dikempesi oleh adik kelas yang naksir dengan salah satu teman laki-lakinya.
Cha juga pernah dijambak, ditendang, diteror, dan dimaki-maki dengan kasar oleh beberapa perempuan yang merasa tidak suka karena Cha punya banyak teman laki-laki. Huhuhu... salahnya dimana, kan cuma berteman, no heart feeling.

Teman laki-laki hanya sebatas teman, tak lebih dari itu. Para lelaki lebih bisa bercanda daripada teman perempuan yang kebanyakan (tidak semua) terlalu sensitif.

It's okay. Aku rapopo.
Bersyukur dengan semua yang terjadi. Pengalaman membuatmu kuat!

29 December 2015

Rayuan Berujung Perih

Kisah pagi ini berdasarkan pengalaman seorang teman.

Beberapa waktu yang lalu seorang teman (sebut saja namanya Kumbang. Hehehe) mengirimkan pesan.

Kumbang: "Gimana menurutmu? Cantik ga?" *mengirim sebuah foto cewe*
Aku: "Biasa aja sih tampangnya, tapi kulitnya bagus...putih"
Kumbang: " Ini cewe yang dulu aku taksir. Dulu aku tembak tapi ga diterima karna saat itu dia punya pacar. 2 minggu yang lalu dia add aku di BBM dan cerita kalau setelah putus dia cari-cari aku, tapi ga ketemu. Dia bilang sebenarnya dia suka aku."
Aku: "Lha terus sekarang mau gimana? Kamu kan udah merit, apa dia udah tau?"
Kumbang: "Aku ga tau mau gimana ke depannya, tapi aku seneng banget akhirnya bisa komunikasi sama dia."
Aku: "Ya...saranku sih jangan langsung percaya ya... setelah lebih dari 3 tahun kok tiba-tiba muncul dan baru nyariin kamu itu ada apa."
Kumbang: "Tapi...dia bilang dia sayang banget sama aku, dia ngajak ketemuan. Dia bisa nerima aku meskipun aku udah merit."
Aku: "Iya, tapi sebaiknya tetap waspada."

Chat pun berakhir. Sejak itu aku dan Kumbang tak pernah lagi komunikasi, sepertinya dia terlalu sibuk dengan cewe itu (sebut saja Mawar). Hingga setelah beberapa bulan, Kumbang muncul di chat.

Kumbang: "Sepertinya aku harus ikhlas."
Aku: "Lhaa...kenapa kamu? Lama ga nongol, tiba2 kok bilang gitu!"
Kumbang: "Si Mawar kabur!"
Aku: "Hahaha... ayam kali kaburrr!"
Kumbang: "Setelah aku sama Mawar semakin deket, aku jadi makin sayang dan percaya sama dia, eh dia malah pergi begitu aja."
Aku: "Bentar, bentar... ini ceritanya gimana, apa kamu bikin salah?"
Kumbang: "Ngga, dia pinjem duit ke aku. Dia bilang ada urusan mendadak buat keluarganya. Dia katanya sedih banget dan perlu uang segera. Tanpa pikir panjang dan positive thinking, aku transferlah uang yang dia minta saat itu juga. Dia bilang dia seneng banget aku mau bantuin. Dia juga bilang akan segera mengembalikan uang itu setelah dia gajian. Tapi.... setelah gajian, aku tunggu kok belum dibayar. Aku coba chat tapi dia bilang masih sibuk dengan kerjaannya. Aku tunggu bulan berikutnya sampai gajian lagi, tapi dia susah dihubungi. HPnya ga aktif. Chat juga ga pernah dibales. Aku jadi bingung, mana aku juga lagi butuh duit."
Aku: "Haduuuh... ceritanya kok jadi berakhir pedih. Makanya kan kemaren aku sempet ingetin untuk waspada, karna aneh aja setelah menghilang lama kok tiba2 muncul dan bilang sayang2 segala. Tapi ya sudahlah, terlanjur. Mungkin sebaiknya kamu cari dia ke rumahnya."
Kumbang: "Ga mungkin, rumahnya di Pulau lain... jauh bangettt. Buat ongkos pesawat kesana, malah jadi tambah mahal."
Aku: "Hufff... ga ada kata lain selain ikhlaskan! Ya anggap aja kamu beramal sama dia or anggap aja itu bayaran untuk rasa sayang."

Agak nyesek juga ya guys cerita diatas. Hehehe...
Sebenernya kejadian ini mungkin aja terjadi di kalangan wanita, ga mesti pria. Apalagi zaman sekarang apa2 mahal, mereka yang punya niat ga baik akan melakukan segala cara untuk mendapatkan uang. So, dimana pun dan kapan pun waspadalah...waspadalah.... ^_-

30 June 2015

Happy Wedding, Bro !

Diawali dengan kebiasaan bertukar sepatu hingga akhirnya menjadi akrab, lalu musuhan karena suatu hal, dan kembali akrab.
We have grown up together!
Thank you udah :
1. Ngajarin arti take and give
2. Ngajarin arti pengorbanan dan kesetiaan
3. Ngajarin hidup toleransi beragama
4. Ngasih Fererro Rocher kalo abis marahan
5. Ngasih kejutan yg selalu gagal tiap ultah:)
6. Ngasih kado unyu2 pas ultah
7. Nganter jemput pas les, skul n kul
8. Ngasih mawar hampir tiap hari
9. Ngasih berbagai macam coklat
10. Jagain aku
11. Ngertiin aku
12. Ngajarin maen game
13. Ngajarin komputer
14. Bantuin aku pas ga bisa apa-apa
15. Nyervisin motorku ke bengkel
16. Nyuciin motorku
17. Buatin desain undangan pernikahanku
18. Keep contact

Time flies so fast, but memories last forever.
Kenal selama 15 tahun dan hampir tiap hari ketemu selama 8 tahun, bukan waktu yang singkat. Begitu banyak peristiwa kita lewati bersama. Mulai dari marahan dipinggir jalan hanya karena aku mau pulang sekolah naik bis, tapi kamu tetap mau nganterin. Pas uang jajan bulanan habis padahal pengen banget beli mi ayam sampe akhirnya beli 1 tapi dijadiin 2 mangkok (hahaha). Pas kamu sakit campak sampe frustasi pengen bunuh diri (ini konyol, hahaha) dan tiap pagi aku nganterin bubur buat sarapan. Paling ngeri kalo pas kamu emosi dan udah mulai mukulin tembok, mending sih mukul samsak aja kan lumayan latian jadi petinju (peeeeaace...). Hobi kita adalah maen timezone, sampe dapet tiket buanyaak trus ditukerin gifts (selemari penuh). Ritual tiap hari yang kudu dilakukan adalah dinner, sampe kamu bilang kamu ga mau makan kalo ga bareng aku (co cuitt apa pemaksaan secara halus nih? Hahaha). Jalan-jalan kalo pas libur contohnya ke Borobudur karena keasyikan ngobrol malah nyasar sampe Temanggung, mau nanya orang tapi kamu bilang ga usah (emang sih tagline kamu beda dari yang lain "mending tersesat daripada bertanya" hahaha). Pas nemu camdig baru, kita langsung keliling Jogja buat foto-foto trus kamu cetak and disusun dibingkai yang kamu buat sendiri dari sterofoam (kereen!!). Waahh saking banyaknya mungkin bisa sampe besok pagi aku ngetiknya. Takdir kita memang begini, kita ga bisa bersama tapi menurutku ini jauh lebih baik karena ga akan ada lagi marahan dan cemburuan diantara kita.
 (^ - *)

Selamat menempuh hidup baru yaaa..
08-08-2015
Happily forever after \(^_^)/


With love,

Ibu kecilmu


09 March 2015

Mungkiiiiinn...!

Mungkin ada yang salah dengan kata "ugh"...
Mungkin udah visit dulu, padahal belum di accept..
Mungkin lagi ga online, tapi tadi komen di status teman FB..
Mungkin ga buka path..
Mungkin dikiranya oranglain..
Iiih banyak kemungkinan..
Be yang aneh..
Orang yang tidak rela berkorban..
Tidak suka berjuang..
Mudah menyerah..
Ah, sudahlah..
Mungkin tidak berarti apa-apa.

27 April 2014

Pernyataan Cinta Dua Pria Dalam Sehari



Ada yang pernah “ditembak” 2 orang dalam sehari ???
Pernah?
Hmmm… Sama! Saya juga! *Ikutan kata2 si Uya Kuya*
Jadi tuh kemarin siang pas lagi nyuci piring tiba-tiba aja keinget kejadian ini dan baru hari ini sempet nulis di blog. Ceritanya begini …
A few years ago when I was sitting on class 2 of Senior High School. Aku ikut les di salah satu tempat les paling “oke” pada jamannya, apalagi yang ngiklanin si Doel Anak Sekolahan dan waktu itu aku memilih untuk les di cabang pusat, lokasi dimana iklan itu dibuat. Sebenarnya memilih cabang itu bukan karena faktor tersebut, cuma pengen punya teman-teman baru aja. Kalau les di cabang yang ada di kotaku, pasti muridnya teman-teman di SMA aku juga. Bosen!
Jadwal lesku Senin – Rabu – Jumat. Setiap pulang sekolah aku langsung meluncur ke tempat les, kecuali hari Jumat karena jam 11 sekolah sudah bubar jadi bisa pulang dulu ke rumah buat ganti baju. Jarak dari sekolahku ke tempat les cukup jauh, perjalanan naik bus sekitar 1 jam, itupun kalau busnya ga ngetem. Hari pertama masuk les masih canggung, secara belum kenal siapapun tapi lama kelamaan bisa membaur. Asyik juga bisa punya teman dari berbagai sekolah di Jogja, bisa tukar pikiran, info dan pengetahuan. Berasa jadi “katak keluar tempurung” hahaha…
Les selesai jam 17.30. Nah, padahal jam segitu udah jarang bus kecil yang rutenya lewat rumahku. Jadi untung-untungan deh, apesnya kalau bus kecil sudah habis terpaksa naik bus besar antar propinsi. Hufff…hati-hati aja jangan sampai ketiduran biar ga kebawa ke propinsi lain. Hahaha… untungnya aja aku ga sendiri, ada Dewi dan Yusuf yang rutenya searah denganku. Dewi itu orangnya kurus, tinggi sekitar 155-160, rambutnya bergelombang sebahu, kulit sawo matang dan pakai kacamata. Yusuf itu orang Palembang, tingginya sekitar 160-165, kulit putih, ga kurus tapi juga ga gendut, lumayan enak dipandanglah *hadehh..pemandangan kali ahh*, dia pindah ke Jogja setelah lulus SMP dan tinggal bersama kakaknya. Yusuf ini baik sama aku, kalau di bus ada 1 kursi kosong pasti dia suruh aku untuk duduk, bukan Dewi. Yusuf ini di kelas pendiam, tapi di bus dia bisa cerita panjang lebar. Sewaktu Yusuf ga berangkat les, aku pulang sama Dewi dan di bus dia cerita tentang Yusuf.
“Eh, si Yusuf itu aneh orangnya!” Kata Dewi
“Aneh gimana sih?” Jawabku bingung.
“Dia dan aku udah ikut les dari kelas 1, tiap pulang les pasti bareng naik busnya tapi kenapa dia sama sekali belum pernah ngajak ngomong aku? Kenapa juga dia bisa akrab sama kamu, padahal kalian baru aja kenal?!”
“Hahaha…dia takut kali sama kamu atau jangan-jangan dia naksir kamu, tapi malu jadinya diem aja.”
“Iiihh… ga mungkin banget!”
“Hahaha…ya udah besok aku tanyain ke orangnya.”
“Eeehh… ga usah, ga usah.”

Jumat, 5 Oktober
Hari itu pulang sekolah lebih awal karena guru-guru pada rapat, sekitar jam 9an kalau ga salah. Kebetulan hari itu aku berencana ke kantor POS untuk mengambil beasiswa bulanan. Lumayanlah, sejak kelas 1 dapat 2 beasiswa pendidikan dari Supersemar (karena selalu masuk ranking 5 besar saat SMP dan bisa masuk SMA Negeri) dan Pertamina (yang ini lupa karena apa ya, kayanya sih tetap berhubungan ama nilai akademik). Tadinya mau naik angkot ke kantor POS yang jaraknya cuma 2km dari sekolah, eh tiba-tiba ada yang nawarin mau nganter. Lumayan, ngirit ongkos dan ngirit waktu daripada kelamaan nunggu angkot lewat. Oiya, yang nganter namanya L. Sebelum dia mengantarku pulang, dia mengajak aku mampir ke rumahnya untuk dikenalkan dengan kakaknya. Hanya sebentar aku berbincang-bincang dengan kakaknya karena dia harus siap-siap untuk berangkat kuliah, sementara itu aku dan L masih melanjutkan obrolan di teras hingga tiba-tiba suasana menjadi hening.
“Kamu udah punya pacar belum?” Kata L.
“Belum.” Jawabku pelan.
“Hmmm… boleh ga aku jadi teman dekatmu?”
“Hah? Maksudnya?”
“Aduhhh..gimana ya ngomongnya, ya itu tadi…”
“Iya, maksudnya teman dekat tuh apa? Bukankah selama ini emang udah berteman?”
“Hmmm…Pacar!” L menjawab dengan malu-malu.
“Duuuhh…gimana ya? Ini ga harus dijawab sekarang kan?”
“Hmmm…ngga sih! Tapi jangan lama-lama juga jawabnya, aku kasih waktu 1 minggu buat mikir.”
“Hahaha… Oke deh!”
Catatan kaki ^-^
L ini teman sekelasku, kami sudah akrab dari kelas 1. Semua berawal dari kebiasaan kami bertukar sepatu, maklum telapak kakiku ini big size mirip ukuran kaki cowok *hedeww*. Nah sejak itu jadi akrab, sering ngobrol pas istrirahat, makan bareng di kantin dan maen bareng anak-anak 1 genk. Meskipun waktu itu sempat terjadi kesalahpahaman ketika kenaikan kelas yang bikin kami berdua cuek-cuekan selama beberapa waktu, tapi akhirnya pas kelas 2 bisa akrab lagi. Dia mulai sering duduk satu bangku dengan aku. Kadang kalau dia datang lebih awal, pasti dia menaruh “sesuatu” di laci meja, jadi pas aku datang dan ingin menaruh tas di laci… jreng… jreeeng… aku menemukan sebungkus coklat dan atau setangkai bunga mawar merah.

Setelah pamit dengan kakaknya, akhirnya L mengantarku pulang. Sorenya aku berangkat les seperti hari Jumat sebelum-sebelumnya. Les selesai. Hari itu Dewi tidak berangkat, otomatis aku hanya menunggu bus berdua dengan Yusuf. Tumben banget bus lewat lebih cepat dari biasanya dan banyak bangku yang kosong. Aku dan Yusuf duduk sejajar bersebelahan, kami melanjutkan obrolan yang tadi sebelum naik bus. Beberapa saat setelah pembahasan tadi selesai, tiba-tiba …
“Cha, kamu tau kan kalau aku pemalu. Aku jarang ngobrol sama oranglain, tapi ga tau kenapa aku bisa ngobrol banyak sama kamu. Akuuu.. suka sama kamu. Kamu mau ga jadi pacarku?”
“Haaaahhhhh!!! Oh My God ada apa dengan orang-orang hari ini ya?” Aku shocked!
“Maksudnya?”
“Eeee..engga..engga, aduh kok malah jadi aneh ya. Aku kaget aja, ga nyangka kamu bakal bilang hal ini. Lagian kita kan baru kenal 3 bulan, ketemu aja seminggu cuma 3 kali. Apa kamu ga salah?”
“Maaf kalau aku bikin kaget. Emang sih kita baru kenal 3 bulan, tapi aku merasa cocok sama kamu. Kita bisa nyambung ngobrolin apa aja. Setiap hari aku kepikiran kamu. Aku banyak cerita tentang kamu ke teman-teman cowokku di kelas. Bahkan untuk nembak kamu aja tadi di sekolah aku latihan ngomong sama temanku.”
“Ya ampuuunn. Hahaha… kamu lucu banget sih. Aku hargai usahamu untuk mengungkapkan perasaan, tapi aku sendiri bingung mau jawab apa. Aku perlu waktu untuk berpikir.”
“Iya, mungkin aku terlalu terburu-buru. Baiklah aku kasih kamu waktu untuk berpikir.”
Les berikutnya hari Senin. Aku bertemu Yusuf. Setelah aku pikirkan selama beberapa hari, akhirnya aku putuskan untuk berteman saja. Karena bagaimana bisa aku menerimanya sementara aku belum begitu mengenalnya. Bayangin aja 3 bulan itu sama dengan 12 minggu kalau seminggu les 3 kali berarti baru ketemu 36 kali itupun belum dipotong hari ketika aku atau Yusuf ga berangkat les. Sejak jawabanku saat itu Yusuf tidak pernah lagi berangkat les dan sayangnya aku tak punya no HP-nya sehingga kami benar-benar lost contact. Jika suatu saat Yusuf membaca ini, mungkin dia sudah bisa berpikir dewasa dan mengerti mengapa aku menolaknya. Maaf ya… *Pisss!!*

Heran deh, kenapa kebanyakan orang yang diputusin or dikecewakan karena hal lain kebanyakan malah frustasi, bahkan yang ekstrimnya ada yang sampai bunuh diri. Helloooo!!! Rugi banget kan kalau kaya gitu, dosa pula, yang ada malah orang yang mutusin atau ngecewain jadi ga respect.
Aku??? Hahaha… aku juga pernah dikecewain, bukan cuma sekali malah. Sedih ga? Sedih bangeeettt nangis seember, hahaha ngga…ngga… nangis sih tapi masih sewajarnya aja, paling banting-banting galon kosong. Hahaha…besokannya udah berusaha tegar dan pasang strategi untuk balas dendam! *melirik dengan memicingkan mata* Hahaha…
Saran aja buat kamu-kamu yang sedang dikecewakan, balaskan dendammu dengan menjadi manusia yang lebih baik lagi, tunjukkan pada orang tersebut bahwa kamu bisa jadi orang hebat tanpa dia dan buat dia menyesal seumur hidupnya karena telah menyia-nyiakanmu!
Fighting!!! *gaya Hyun Eun Hye*

01 April 2014

Saksi Sidang Perceraian

Sore ini pala gue pusing sebelah alias migran!Sambil nunggu murid yang katanya mau les, tapi entah kenapa jam segini belum dateng jg kalo gitu mending disambi nulis blog.


Jam8 tadi pagi gue udah meluncur ke Pengadilan Agama. Jadi begini ceritanya: 
Beberapa hari yang lalu sepupu gue yang kebetulan rumahnya depan rumah gue, bilang kalo tanggal 1 April 2014 gue diminta jadi saksi perceraian dia ama istrinya di Pengadilan Agama sini (jarak dari rumah sekitar 3kiloan lah..). Setau gue sih mereka itu mau bercerai lantaran si istri kembali ke agamanya terdahulu, padahal kan menurut agama gue ga boleh kalo suami istri beda agama karena itu hukumnya sama dengan zina. Nah, udah gitu setau gue berdasarkan info dari saudara2 banyak yang bilang kalo si istri ini tabiatnya kurang baik, ditambah lagi dengan diam2 pindah agama jadi uwa gue (ortunya sepupu gue) merasa dibohongin, mereka kecewa. Menurut gue sih wajar banget kalo mereka kecewa, ya emang sih agama itu hak asasi, tapi kan juga jangan dipake maenan. Dari agama A pindah ke B trus pindah lagi ke A. Kan ga baik kaya gitu, sama aja melecehkan agama kalo menurut gue.

Tadi begitu nama gue dipanggil untuk masuk ke dalam ruang sidang, agak deg2an juga sih secara gue belum pernah dan jangan sampe deh berhubungan dengan sidang2 hukum, kalo sidang skripsi or tesis sih gpp. sampe di dalam ruang sidang gue di suruh sumpah, ngikutin perkataan yang diucapkan hakim. Abis itu mulai deh gue diintrogasi, ditanya alasan mereka bercerai karna apa, bukti-buktinya apa aja kalo si istri pindah agama dan apakah sering melihat mereka bertengkar. Huff...kayanya gue ga pantes deh jadi saksi, coz yang tau semua kejadian detailnya adalah si bibi, pembantu rumah tangga mereka. Gue ga tau deh kok bisa kejadiannya sesemrawut itu. Udah kaya benang kusut! Menurut gue ini mah udah salah dari awalnya, trus dibiarin, makanya jadi tambah kusut. Ternyata kata uwa, teteh dan temen dari sepupu gue bahwa si istri itu udah pindah ke agamanya sejak beberapa waktu setelah menikah, dia beralasan kalo untuk sementara pindah dulu ke agamanya karena bokapnya lagi sakit, kalo bokapnya udah meninggal...baru dia mau pindah agama lagi ikut suami. Hadeeehhh riweh yaa.. Udah kaya sinetron aja ini mah.

Ya terserahlah...itu urusan rumah tangga masing-masing, gue ga mau ikut campur terlalu dalam. Makanya gue tadi jawab pertanyaan hakim sesuai dengan sepengetahuan gue aja, ga ditambah ga dilebihin.

Hikmah yang dapat gue ambil dari peristiwa ini adalah:
1. Berpegang teguhlah pada agamamu karena itu pedomanmu. Jangan pernah mempermainkan agama! Gue yakin ga ada agama yang mau dan boleh dipermainkan.
2. Nilailah orang dari berbagai sisi dan sumber.
3. Godaan duniawi memang dahsyat, harus pertebal iman agar tidak tergelincir dalam hal yang semu.

31 December 2013

The Boys Part 1 (Ketika Cinta Menyapa)



Puru
“Nama yang aneh!” begitu pikirku saat itu. Tapi… orangnya ga aneh kok. Bertubuh tinggi standar anak-anak SMP kelas 3, putih, cakep, keren, modis. Kira-kira seperti itulah ciri-ciri fisiknya. Dia selalu membawa tas ransel warna abu-abu dan sepeda Polygon yang sewarna dengan tasnya. Dikagumi banyak cewe, itu udah pasti.
Kami bertemu pertama kali di kelasku ketika istirahat setelah Ulangan Umum sesi 1. Di SMP ku, setiap Ulangan Umum siswa selalu di acak. Anak kelas 1 duduk sebangku dengan kelas 2 atau kelas 3. Kebetulan saat itu aku kebagian jatah duduk dengan kelas 3D.
Ulangan Umum sesi 1 hari itu sudah selesai. Sebelum lanjut ke sesi 2, anak-anak beristirahat. Sebagian ada yang jajan di kantin, ada yang bermain-main, ada juga yang tetap duduk di kelas sambil membaca-baca materi untuk Ulangan selanjutnya. Dan aku melakukan yang terakhir itu. Di sebelahku duduk kakak kelas 3, namanya Betty. Mba Betty juga melakukan hal yang sama, membaca. Sambil sesekali kami mengobrol santai. Tiba-tiba terdengar suara gaduh di belakang kelas, aku membalikkan badan untuk mencari tahu dari mana arah suara itu. Mataku mengarah seiring putaran bahu dan berhenti tepat di bangku pojokan kelas sebelah kanan. Bagai melihat pangeran turun dari langit, (Hahaha lebay!) tampak seorang cowo yang sedang melihat ke arahku. Kami saling bertatapan selama beberapa menit, tanpa kedip! Entah karena sama-sama terpesona atau karena emang kebetulan aja. Anehnya, jantungku berdegup kencang. Akhirnya aku membalikkan badan ke posisi semula, memegang buku dan mencoba meneruskan bacaanku, tapi sepertinya pikiranku mulai kacau. Yang ditatap sih buku, tapi yang ada dipikiran malah si cowo tadi.
Bel tanda 5 menit lagi Ulangan sesi 2 akan dimulai, berbunyi…
Rupanya cowo tadi tidak duduk di kelasku, dia ke kelasku hanya untuk menemui temannya yang sama-sama kelas 3D. Kebetulan di samping kiriku ada kaca jendela, saat aku melihat ke arah jendela… Wow!! Ternyata cowo itu berdiri dibalik jendela sedang berbicara dengan temannya, tapi kenapa matanya mengarah ke aku. “Aduuh..jangan2 dia udah berdiri disitu dari tadi, trus merhatiin aku. OMG!! Aku malu banget..” dan untuk kedua kalinya kami bertatapan lagi, hingga akhirnya dia pergi menuju kelasnya.
Hari berikutnya…
Sama seperti hari sebelumnya, cowo itu datang lagi ke kelasku saat istirahat. Kami pun bertatapan lagi tapi tak selama kemarin dan kali ini aku sudah bisa mengontrol degup jantungku. Hehehe… Aku beranikan diri untuk bertanya ke mba Betty.
“Mba, cowo yang lagi ngobrol sama mas Agus itu siapa sih?”
“Ooh..itu Puru. Emang kenapa dik?”
“Hmm.. ga papa mba cm nanya aja.” Begitu kataku sambil berusaha bersikap sealami mungkin biar ga mencurigakan.
Ulangan Umum selesai. Pembagian rapot. Libur seminggu. Masuk sekolah lagi.
Hari itu pelajaran Bahasa Indonesia, yang mengajar adalah Pak Petrus, wali kelasku. Oiya, aku selalu duduk di bangku paling depan bersama Ugi. Ugi ini orang pertama yang aku kenal saat pertama kali pindah ke Jogja dan kebetulan kami dapat kelas yang sama, 1D. Pak Petrus memulai pelajaran, dia menerangkan beberapa hal, kemudian memberikan soal. Saat anak-anak sedang mengerjakan soal, tiba-tiba beliau berkata
“Kemaren saya ngajar kelas 3, trus tiba-tiba ada yang berteriak “Pak, titip salam ya buat Tessa.””
Geeerrrrrrrr… sontak semua anak-anak di kelasku tertawa dan mengejekku.
“Cie…cie… ada yang dapet salam dari kakak kelas.”
“Siapa tuuuh???”
“Asiiik kita ditraktir makan-makan niih.”
Aduuuh aku malu banget saat itu, tapi seneng juga sih sebenernya. Cuma aku kan belum tahu siapa yang ngirim salam, mana pak Petrus juga ga mau kasih tahu siapa nama pengirimnya.
Teng.. Teng.. Teng..
Bel istirahat berbunyi, beberapa anak berhamburan keluar kelas, begitu juga aku tapi aku ga ke kantin. Aku hanya bermain bersama anak-anak di dekat kelas 1C. Huffftt… aku melihat seseorang datang berjalan ke arahku. Mas Puru! Dia mendekatiku dan menyerahkan sepucuk surat dan berlalu pergi tanpa kata. OMG… Cowo sekeren itu dan pujaan banyak cewe di sekolah ngasih aku surat di depan banyak orang ? Rasanya pengen terbang ke awan terus diem aja disana ga turun-turun karena malu. Akhirnya aku tinggalkan kerumunan teman-temanku itu dan masuk ke dalam kelas. Dengan muka berseri-seri aku buka surat itu.
“Dik, nanti pulang sekolah aku tunggu di gerbang. Kita pulang bareng ya!”
Hwaaaaaaaaaa…..rasanya pengen teriak sekeras-kerasnya.
Pelajaran selesai. Waktunya pulang. Aku memaksa Ugi untuk pulang bersamaku. Kami berdua berjalan menuju gerbang, tampak disana mas Puru sudah menunggu dengan sepedanya.
“Mas, pulangnya bareng Ugi ya.. soalnya aku biasa jalan kaki bareng dia.”
Ugi tiba-tiba berkata “Ngga usah, aku mau pulang mbonceng Yani aja.”
Aku langsung mengedipkan mata ke Ugi dan bilang “Ahhh biasanya juga pulang bareng aku, jalan kaki.”
Aku tetap menggandeng Ugi dan mulai berjalan. Mas Puru yang sedari tadi cuma diam aja tampak bingung, mungkin dia juga kecewa karena yang diajak pulang bareng kan aku, tapi aku malah ngajak Ugi juga. Akhirnya kita pulang bertiga, jalan kaki. Sepedanya mas Puru? Nah itu dia, sepedanya dituntun. Hahaha…
Begitulah yang terjadi setiap pulang sekolah, meskipun mas Puru pernah bilang kalau dia ga suka pulang bertiga, tapi aku ga mau. Aku tetep aja ngajak Ugi. Pernah suatu kali pas pulang bareng, kita jalan lewat jalan lain ga seperti biasanya. Pas lewat daerah yang banyak semak-semak dan pohon-pohon tinggi, saat lagi asik ngobrol sambil jalan, terdengar bunyi “kresek…kresek..” dibalik semak-semak. Kami berhenti dan memperhatikan ke arah suara itu dan ….
Hwaaaaa… Anjiiiiing!!
Tanpa pikir panjang, kami langsung lari dari kejaran anjing itu. Untungnya ada warga situ dan kami pun terselamatkan.
Hari berganti.. bulan berlalu.. mas Puru yang saat itu sudah kelas 3, lulus dan melanjutkan ke SMA. Begitu banyak kenangan yang dilalui, mulai dari pertama bertemu, kirim-kiriman surat, pulang sekolah bertiga, yang paling ga enak adalah dijutekin cewe-cewe yang pada naksir sama mas Puru (mulai dari fans-nya yang seangkatan sama aku sampai kakak kelas).
3 tahun kemudian, ternyata aku diterima di SMA yang sama dengan mas Puru dan kebetulan kelasku berhadapan dengan kelasnya. Terus pas ketemu di SMA, rasanya masih sama ga? Ngga! Hahaha. Rasanya biasa aja, paling cuma saling sapa aja, ga pernah ngobrol sama sekali. Hmm.. mas Puru udah ga sekeren SMP dan dia udah punya cewe.
Sekarang mas Puru sudah punya istri. Komunikasi kami baik-baik saja sampai saat ini, dia aku anggap seperti kakakku sendiri.


So, buat para ababil… ga usah deh yang namanya putus trus lama move on atau malah musuhan, kan mending sodaraan. Begitu lebih baik!
*sok tua banget ya gw*
^-^

Bizarre Love [NOT] Triangle Part 2





Siang itu… surya membelai bumi…
Ku terima sebuah undangan…
Ku buka dan ku baca…
Sampul berwarna merah…
Ada namamu…
Ku berlinang air mata
Ku harap kau bahagia…
Dengan gadis pilihan orangtuamu…
Biarlah ku mengalah…
Demi keutuhan engkau dan dia…
Walau hati ini luka…
Sendiri lagi… sendiri lagi…
Tanpa dirimu disisiku…
Sendiri lagi… sendiri lagi…
Ku coba untuk melupakanmu…
Sudah suratan harus begini…
Oh Tuhan tabahkanlah hati ini…

Hahaha… Sebenernya lagu ini ga ada hubungannya dengan cerita yang akan di tulis, Cuma tiba-tiba aja terngiang lagu Nike Ardila – Biarlah ku mengalah. Jadi inget pernah nyanyi lagu itu pas siang-siang pulang sekolah kelas 5 SD sambil jalan pepanasan turun dari angkot menuju rumah.
Kembali ke laptop!
Siang itu Via terkejut mendapati sebuah message di whatsapp. Sebuah nama tertera di layar tabletnya.
Tito

Pikiran Via pun secara otomatis flashback ke masa lalu. Mulai dari pertama bertemu di bandara, jalan-jalan bareng, berantem, kebiasaan bohongnya, kebiasaan menghilangnya sampai akhirnya harus berpisah tanpa kata di stasiun.

Tito: “Maaf ya beib lama gk ngabarin”

Wow… yang selama ini hilang bagai ditelan bumi, tiba-tiba muncul. Entah kenapa terbesit dalam pikiran Via kalau Tito sudah menikah, tapi Via sendiri masih ragu akan dugaannya itu. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Via membalas.

Via: “Sibuk banget kaaah? Atau udah merit? Hehehe”

3 menit kemudian ada balasan.
Tito: “Sibuk kerja sama tidur. Hotel lagi rame banget. Kemaren sempet sakit juga. Iya beib, maaf banget yaaa. Bukan gk mau komunikasi, beib. Cuma berharap gimana kalo aku udah nikah? Apa masih kaya gini? Apa my beiby masih anggap aku “my beiby” seperti yang aku lakuin?”

Dan chatting-an pun berlanjut.
Via: “Uhmm.. mana aku tahu kalo sakit segala. Ooh jadi beneran udah nikah?”

Tito: “Gimana kabar disana?”

Via: “Kabarnya sehat. Jadi beneran udah nikah?”

Tito: “Alhamdulillah kalo sehat. Akhir tahun pulang ke rumah gk? Kayanya ada yang abis bikin rumah nih. Bangunnya dmn?”

Via: “Di deket rumah mama. Iiih kok ga di jawab sih. Ngaku aja kali, kejujuran itu lebih berharga daripada kebohongan yang paling indah.”

Tito: “Oalah bangun rumah disana to. What if I say yes or no?”

Via: “Kalo emang udah, ya Alhamdulillah.”

Tito: “Hmmmmmm… Pelarian atau penantian tak kunjung usai ya?”

Via: “Maksudnya gimana?”

Tito: “Ya udah buat PR aja.”

Via: “Hmmm…udh kebanyakan PR! Ya udah kalo ga mau jelasin, padahal tadinya aku mau bilang sesuatu.”

Tito: “Mau bilang apa? Ya bilang aja beib, semisal salah ngomong juga gk apa-apa. U always be my beiby.”

Via: “Ogah..! Aku nanya aja belum di jawab.”

Tito: “Yaelah, udah dikasih clue-nya, dipilih aja salah satu beib.”

Via kembali me-review message sebelumnya dan 2 menit kemudian dia membalas…
Via: “Oalahhh…maksudnya mau bilang “Aku udah nikah, tapi aku ga mau bilang coz takut my beiby perasaannya jadi berubah ke aku. Aku akhirnya nikah karena pelarian atau penantian yang tak kunjung usai. But don’t worry coz U always be my beiby. Begitu kaaaaaaaaaaaaah?”

Tito: “Woooowww…. Tepuk tangaaaaan”

Via: “Yaelaaah ngaku begitu doank susah amat. Selamat ya, beib..”

Tito: “Mesti dikasih selamat ya? :-( Hmmm..”

Via: “Kan selamat itu doa, biar selalu selamat dan sehat. Trus jadinya nikah sama mba2 yang dulu itu?”

Tito: “Sama simbah2!”

Via: “Diiih ditanya malah kaya gitu jawabnya. Tanggal berapa nikahnya?”

Tito: “Emang penting ya, beib?

Via: “Penting doooonk, kan biar tahun depan aku bisa ngirim kado.”

Tito: “Hadeehh, gk usah repot-repot. Tanggal 32!”

Via: “Iiiih yang bener atuh…”

Tito: “Hmmm… terserah my beiby aja mau tanggal berapa. Pilih aja tanggalnya!”

Begitulah percakapan itu berakhir "menggantung" tanpa ada kejelasan.
Via akhirnya memutuskan untuk membuka Facebook, padahal selama ini dia sangat tidak berani untuk membuka FB-nya Tito karena takut bila melihat hal-hal yang tidak seharusnya dia lihat. Kali ini rasa penasarannya lebih besar dari rasa takutnya. Dan benar saja, ternyata Tito sudah menikah sejak 6 bulan yang lalu. 
Uwoooww !!!
Via menarik napas panjang, kemudian dia tersenyum sambil membatin…
 “Tuhan sudah mengatur segalanya dengan baik dan apapun yang telah terjadi pasti itu juga yang terbaik.”
 
^_^ 

VuL oF LuV