05 January 2014

The Boys Part 2 (Ketika Cinta Tak Harus Memiliki)



Bahagianya bila bulan Ramadhan tiba. Mau tahu? Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Soalnya kalo pas bulan puasa itu bisa ketemu teman-teman di masjid (selain di sekolah). Bisa piket bersihin masjid, bisa ngisi kultum sebelum berbuka, bisa buka bersama, tarawih bersama dan tadarusan bersama. Maklum, selain bulan puasa aku ga bisa main keluar, paling di rumah aja nonton tv, bersih-bersih dan belajar. Begitulah peraturannya, agak konservatif sih tapi mungkin itu demi kebaikanku juga.
Well, kalau kemarin aku udah cerita Boy Part 1 yang kejadiannya kelas 1 SMP, kali ini aku akan cerita tentang kejadian di kelas 2 SMP, tepatnya di bulan ramadhan. Di daerah tempat tinggalku ada tradisi setiap selesai sholat subuh, yaitu jalan-jalan. Pagi itu aku dan teman-teman melakukannya, kami berencana jalan-jalan dari masjid sampai lapangan bola yang jaraknya sekitar 1 km. Tak hanya gerombolan kami, ada banyak kelompok remaja lain yang melakukan hal sama juga. Setiap kelompok biasanya terdiri dari remaja seangkatan atau yang rumahnya tetanggaan. Sementara anak-anak kecil mengikuti sambil bermain petasan. Seringkali kami berpapasan dengan kelompok remaja  dari masjid lain. Tentu saja yang aku tunggu adalah saat berpapasan dengan kelompok masjid dekat lapangan bola, karena ada mas Puru. Hahaha…
Tapi Ramadhan kali ini berbeda, diantara kelompok remaja masjidku ada seseorang yang belum pernah kulihat. Siapa ya? Saat jalan-jalan itulah pertama kalinya kami bertemu. Setelah sampai lapangan bola, kami semua berbalik arah dan lama kelamaan kelompok dari masjidku pun hanya tinggal beberapa orang saja karena masing-masing langsung pulang begitu melewati rumahnya. Rumahku masih 200 meter lagi, sementara 2 orang temanku masih 300 meter lagi. Bagaimana dengan seseorang itu? Teman-temannya sudah habis, dia berjalan sendirian dan akhirnya bergabung dengan kelompokku.
“Hai dik, ikutan gabung ya… teman-teman aku udah pada pulang.” Kata dia sambil tersenyum.
Woooww… senyumnya itu lho ga nahan. Hahaha… Inget pemeran Sembara di film Misteri Gunung Merapi ga? Nah. Mirip banget tuh. Tinggi, putih, berbadan tegap, proporsional gitu deh, cowo banget pokoknya, sesuara-suaranya juga.
“Hmmm..” jawabku malu-malu sambil membalas senyumannya.
“Oiya, kita belum kenalan. Namamu siapa?” Kata dia sambil menyodorkan tangannya.
“Tessa.” Kataku.
“Sari.” Kata dia.
Dan kami pun bersalaman.
Agak aneh juga mendengar namanya, kok kaya cewe. Hahaha. Sepanjang perjalanan kami mengobrol tentang sekolah dan asal usul, hingga akhirnya aku tiba di depan rumah dan berpamitan karena harus pulang duluan. Waiiiittt! Kemana dua orang temanku tadi? Mau tau? Ternyata sepanjang perjalanan aku ngobrol dengan mas Sari, mereka berdua berjalan di belakangku. Oowh betapa baiknya mereka. :)
Mas Sari itu baru aja pindah sekolah ke SMK PGRI, dia ternyata keponakan dari istrinya pakdhe ku. Hmmm… saudara jauh banget berarti ya? Oiya, rumah pakdhe dekat masjid, jadi otomatis setiap aku ke masjid pasti lewat depan rumahnya. Dan karena itu pula aku dan mas Sari sering bertemu, entah saat berangkat atau pulang dari masjid. Pertemuan yang intens itu membuat kami jadi semakin akrab.
Suatu sore setelah bulan ramadhan aku bersepeda melewati depan rumah pakdhe, kalo ga salah waktu itu aku mau beli bakso. Tiba-tiba mas Sari menghentikanku, dia mengeluarkan sepucuk surat dari kantong celananya. Hah..??? Kaget! Saat itu aku bingung harus berkata apa, aku langsung menerimanya dan berlalu pergi. Buru-buru aku kayuh sepedaku, aku takut kalo ada pakdhe atau saudaraku yang melihat. Sesampainya di rumah, aku masuk kamar dan kubuka surat itu.
“Bla…bla…bla…bla…bla…………………………………………………………………………………………………………………………… Aku tahu, aku ini hanya orang biasa, tapi perasaanku padamu sungguh tak biasa. Maukah kau menjadi pacarku? I Love U so much!”
Hwaaaaaaaaaaaaaa…. Aduuuh gimana ini?? Aku ditembak!
Senang ga? Jelassss, senang bangeett secara ditembak sama cowo ganteng sixpack dan keren abiss gitu.
Berarti diterima? Nah, itu dia. Aku mungkin gampang kagum sama cowo keren, tapi ga segampang itu menerima cintanya. Aku harus tahu lebih detail dulu tentang dia, so surat itu belum aku balas. Aku mulai menjadi detektif, aku tanya beberapa temannya mengenai baik buruk sifatnya. So far so good. Rupanya sepupuku, anaknya pakdhe ku mengetahui hal ini dan dia mendukung aku untuk jadian. Kira-kira begini dia bilang:
“Udah, diterima aja. Mas Sari kan ganteng. Dia banyak fans-nya lho. Itu di kamarnya banyak hadiah dari cewe-cewe yang ngefans sama dia, bahkan belum lama ini ada cewe, teman sekelasnya, anaknya pak lurah dari daerah far far away ngasih bunga dan boneka. Terima aja sebelum keduluan sama yang lain.”
Hmmm… setelah aku pikir masak-masak, akhirnya aku putuskan untuk membuat surat balasan. Begini isinya:
“Sebelumnya aku minta maaf karena lama membalasnya. Dalam surat ini aku mau bilang kalo sebaiknya kita bersaudara aja, aku mau fokus belajar dulu. Terima kasih. Sekali lagi, maaf.”
Mungkin oranglain berpikir aku ini bodoh, orang sebaik dan sekeren itu kok ditolak, padahal cewe-cewe lain aja bersusah payah untuk mendapatkan cintanya. Haduuh gimana yaa?? Suka sih suka tapi………… Ahh, sudahlah!
Untungnya mas Sari ga marah gara-gara balasan suratku. Setiap papasan di jalan kami masih saling bertegur sapa, malah pas valentine dia ngasih aku mawar merah dan CD Stinky (Aduuh.. jadul banget yaa.. jadi ketauan deh tuanya. Hahaha..). Dia juga beberapa kali telepon ke rumah.
Saat aku kelas 2 SMA, mas Sari udah lulus SMK. Saat itu aku mulai jarang bertemu dengannya. Tiba-tiba ada seorang cewe memberikan surat, ketika aku sedang berjalan sepulang sekolah. Aku buka surat itu, isinya:
“Dik, saat ini aku sudah tidak di Jogja. Aku kembali ke kampung halamanku untuk bekerja. Aku titipkan surat ini pada sepupuku. Aku tahu ini tak mungkin, tapi perasaanku yang dulu masih tersimpan untukmu. Kali ini, mau kah kau menerimaku?”
OMG!!! So sweet banget. Lagi-lagi aku harus minta maaf, rasanya aku cuma kagum aja tapi ga sampai jatuh hati. Penolakan yang kedua pun terjadi.
Tahun berganti, aku tak pernah mendengar kabar tentang mas Sari lagi. Selepas SMA, aku melanjutkan kuliah di universitas impianku. Bertemu banyak teman baru itu menyenangkan. Baru kenal beberapa minggu saja kami sudah akrab, bahkan sudah membuat genk. Aku, Sintha, Ana, Tyo dan Erry. Kami berlima selalu bersama selama di kampus. Hari itu aku ada kuliah sore, jam 16. Kebetulan dosen Agama belum datang, anak-anak belum semua masuk kelas, masih ada yang berkeliaran di luar. Aku, Tyo dan Ana sudah duduk sebaris, kami mengobrol sambil menunggu dosen datang. Tiba-tiba Sintha berlari masuk ke dalam kelas, dia berteriak:
“Ana, Tessa, Tyo….ayo cepat keluar, ada security baru.”
“Ya ampun, emangnya kenapa kalo ada security baru?” Kata Tyo.
“Iya iih lebay banget deh, sampe segitunya.” Kataku.
Aku yang duduk paling pinggir akhirnya ditarik Sintha keluar.
“Ayo cepeett, ntar keburu pergi orangnya. Dia ganteng banget, aku tadi ga sengaja liat dia di pos security depan.” Kata Sintha.
“Lha terusss? Kenapa aku harus di tarik-tarik?” Kataku.
“Ntar keburu orangnya kabur. Aku pengen kenalan, tapi ga berani kalo sendiri.” Kata Sintha.
Sebelum sampai di pos security, begitu keluar dari pintu kampus …
Dziiing….!!!
Seorang security berdiri di depan pintu sambil mengarahkan telunjuk ke aku dan aku pun mengarahkan telunjuk kiriku padanya.
“Dik Tessa..?” Seru security itu.
“Mas Sari..?” Kataku.
Sintha yang melihat kejadian itu langsung berhenti menarikku dan melepaskan tangan kananku karena kaget. Dia celingukan, bingung.
Aku dan mas Sari saling tersenyum, belum sempat mengucapkan kata-kata lainnya, Sintha langsung memegang tanganku kembali dan menarikku ke ruang kelas. Sebenarnya aku sendiri juga shock, ga nyangka banget setelah lama ga ketemu, ehh ketemu lagi di kampus dan dia berseragam security.
“Kamu kenal security itu? Kok bisa? Dia yang aku maksud ganteng tadi.” Kata Sintha penasaran.
“Hmmm…gimana ya, ceritanya panjang. Nanti deh aku ceritain, tuuh pak dosen udah datang!” Kataku.
Akhirnya rasa penasaran Sintha terjawab setelah aku menceritakan kisah mas Sari padanya, seusai kuliah.

Saat ini setahu aku… mas Sari sudah mempunyai istri, seorang perawat dan dia juga sudah memiliki anak. Semoga mas Sari dan keluarganya hidup bahagia. Forever and after.
Dari kisah nyata diatas, dapat disimpulkan bahwa :
Dunia itu sempit
Buktinya setelah lama berpisah, eh bisa ketemu lagi. Jadi ingat kisah Tito dan Via? Di Jogja kan banyak mall dan supermarket, tapi kenapa Via bisa mergokin Tito di salah satu supermarket? Benar-benar dunia ini sempit ^-^
Jodoh itu Tuhan yang ngatur
Aku dan mas Sari itu berjodoh, buktinya setelah lama berpisah akhirnya ketemu lagi. Tapi, jodoh itu bukan berarti harus bersama/ bersatu lho ya…

Nah, buat para ababil… semoga kisah ini menginspirasi kalian. Jangan karena di tolak terus jadi patah semangat, usaha teruuuss! Tapi kalo tetap ga bisa, ya udah jangan memaksa dan jangan bermusuhan (sakit hati). Tuhan sudah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Tetap Semangat dan keep smile !!!

02 January 2014

Selamat Tahun Baru 2014


Teeeeettttt....teeeeettttt...teeeeetttttt !!!
Terompet dan petasan menyambut tahun baru telah berbunyi.
Mari kita sambut Tahun 2014 dengan suka cita, semoga di tahun ini dan seterusnya kita selalu diberikan keselamatan, kesehatan, kesuksesan, kebahagian, rezeki yang melimpah dan dapat terwujud segala sesuatu yang dicita-citakan. Amiiiiiiin.

Malam tahun baru kali ini ada acara bakar-bakaran di rumah mas Beng.
Bapak2 sibuk ngebakar jagung dan ubi, sementara ibu2 sibuk ngegoreng kentang dan sosis. Aku? aku sibuk foto2 aja :-)

Cukup makan 1 jagung, ngobrol dengan ibu2, lalu rame2 berangkat ke taman. Taman kota disini mirip alun2 gitu. Disana ada pesta kembang api. Apesnya, aku malah kena gas air mata. Perih banget sampe nangis, kulit muka jadi iritasi, sesak napas dan nyaris pingsan. Entah siapa yang iseng menyemprotkan gas air mata diantara kerumunan orang banyak, padahal ga ada kerusuhan, kan kasihan kalau ada anak kecil yang terkena. 

Sepanjang jalan dari taman sampai rumah, jalanan padat tapi ga macet. Tua muda sampai anak kecil pun ikut begadang. Sampai di rumah jam 1 dini hari, mencoba untuk tidur tapi ga bisa, walau akhirnya tidur juga dan bangun jam 8 trus siap2 berangkat family gathering di Kambitin.

Hoaaahhmmm...ngantuk dan pegel2 gegara cape perjalanan Jkt-Bdj, beberes, begadang, family gathering nyampur jadi satu. Perlu pijet nih *telpon tukang pijet*

Wokey deh segitu dulu cerita di awal tahun 2014 ini.

1 2 3 lupakan semua yang buruk di tahun sebelumnya.
Kejarlah impian selanjutnya dan wujudkan !!!

Semangaaatttt!!!

Ganbatte!!!

Caiyoo!!!

31 December 2013

The Boys Part 1 (Ketika Cinta Menyapa)



Puru
“Nama yang aneh!” begitu pikirku saat itu. Tapi… orangnya ga aneh kok. Bertubuh tinggi standar anak-anak SMP kelas 3, putih, cakep, keren, modis. Kira-kira seperti itulah ciri-ciri fisiknya. Dia selalu membawa tas ransel warna abu-abu dan sepeda Polygon yang sewarna dengan tasnya. Dikagumi banyak cewe, itu udah pasti.
Kami bertemu pertama kali di kelasku ketika istirahat setelah Ulangan Umum sesi 1. Di SMP ku, setiap Ulangan Umum siswa selalu di acak. Anak kelas 1 duduk sebangku dengan kelas 2 atau kelas 3. Kebetulan saat itu aku kebagian jatah duduk dengan kelas 3D.
Ulangan Umum sesi 1 hari itu sudah selesai. Sebelum lanjut ke sesi 2, anak-anak beristirahat. Sebagian ada yang jajan di kantin, ada yang bermain-main, ada juga yang tetap duduk di kelas sambil membaca-baca materi untuk Ulangan selanjutnya. Dan aku melakukan yang terakhir itu. Di sebelahku duduk kakak kelas 3, namanya Betty. Mba Betty juga melakukan hal yang sama, membaca. Sambil sesekali kami mengobrol santai. Tiba-tiba terdengar suara gaduh di belakang kelas, aku membalikkan badan untuk mencari tahu dari mana arah suara itu. Mataku mengarah seiring putaran bahu dan berhenti tepat di bangku pojokan kelas sebelah kanan. Bagai melihat pangeran turun dari langit, (Hahaha lebay!) tampak seorang cowo yang sedang melihat ke arahku. Kami saling bertatapan selama beberapa menit, tanpa kedip! Entah karena sama-sama terpesona atau karena emang kebetulan aja. Anehnya, jantungku berdegup kencang. Akhirnya aku membalikkan badan ke posisi semula, memegang buku dan mencoba meneruskan bacaanku, tapi sepertinya pikiranku mulai kacau. Yang ditatap sih buku, tapi yang ada dipikiran malah si cowo tadi.
Bel tanda 5 menit lagi Ulangan sesi 2 akan dimulai, berbunyi…
Rupanya cowo tadi tidak duduk di kelasku, dia ke kelasku hanya untuk menemui temannya yang sama-sama kelas 3D. Kebetulan di samping kiriku ada kaca jendela, saat aku melihat ke arah jendela… Wow!! Ternyata cowo itu berdiri dibalik jendela sedang berbicara dengan temannya, tapi kenapa matanya mengarah ke aku. “Aduuh..jangan2 dia udah berdiri disitu dari tadi, trus merhatiin aku. OMG!! Aku malu banget..” dan untuk kedua kalinya kami bertatapan lagi, hingga akhirnya dia pergi menuju kelasnya.
Hari berikutnya…
Sama seperti hari sebelumnya, cowo itu datang lagi ke kelasku saat istirahat. Kami pun bertatapan lagi tapi tak selama kemarin dan kali ini aku sudah bisa mengontrol degup jantungku. Hehehe… Aku beranikan diri untuk bertanya ke mba Betty.
“Mba, cowo yang lagi ngobrol sama mas Agus itu siapa sih?”
“Ooh..itu Puru. Emang kenapa dik?”
“Hmm.. ga papa mba cm nanya aja.” Begitu kataku sambil berusaha bersikap sealami mungkin biar ga mencurigakan.
Ulangan Umum selesai. Pembagian rapot. Libur seminggu. Masuk sekolah lagi.
Hari itu pelajaran Bahasa Indonesia, yang mengajar adalah Pak Petrus, wali kelasku. Oiya, aku selalu duduk di bangku paling depan bersama Ugi. Ugi ini orang pertama yang aku kenal saat pertama kali pindah ke Jogja dan kebetulan kami dapat kelas yang sama, 1D. Pak Petrus memulai pelajaran, dia menerangkan beberapa hal, kemudian memberikan soal. Saat anak-anak sedang mengerjakan soal, tiba-tiba beliau berkata
“Kemaren saya ngajar kelas 3, trus tiba-tiba ada yang berteriak “Pak, titip salam ya buat Tessa.””
Geeerrrrrrrr… sontak semua anak-anak di kelasku tertawa dan mengejekku.
“Cie…cie… ada yang dapet salam dari kakak kelas.”
“Siapa tuuuh???”
“Asiiik kita ditraktir makan-makan niih.”
Aduuuh aku malu banget saat itu, tapi seneng juga sih sebenernya. Cuma aku kan belum tahu siapa yang ngirim salam, mana pak Petrus juga ga mau kasih tahu siapa nama pengirimnya.
Teng.. Teng.. Teng..
Bel istirahat berbunyi, beberapa anak berhamburan keluar kelas, begitu juga aku tapi aku ga ke kantin. Aku hanya bermain bersama anak-anak di dekat kelas 1C. Huffftt… aku melihat seseorang datang berjalan ke arahku. Mas Puru! Dia mendekatiku dan menyerahkan sepucuk surat dan berlalu pergi tanpa kata. OMG… Cowo sekeren itu dan pujaan banyak cewe di sekolah ngasih aku surat di depan banyak orang ? Rasanya pengen terbang ke awan terus diem aja disana ga turun-turun karena malu. Akhirnya aku tinggalkan kerumunan teman-temanku itu dan masuk ke dalam kelas. Dengan muka berseri-seri aku buka surat itu.
“Dik, nanti pulang sekolah aku tunggu di gerbang. Kita pulang bareng ya!”
Hwaaaaaaaaaa…..rasanya pengen teriak sekeras-kerasnya.
Pelajaran selesai. Waktunya pulang. Aku memaksa Ugi untuk pulang bersamaku. Kami berdua berjalan menuju gerbang, tampak disana mas Puru sudah menunggu dengan sepedanya.
“Mas, pulangnya bareng Ugi ya.. soalnya aku biasa jalan kaki bareng dia.”
Ugi tiba-tiba berkata “Ngga usah, aku mau pulang mbonceng Yani aja.”
Aku langsung mengedipkan mata ke Ugi dan bilang “Ahhh biasanya juga pulang bareng aku, jalan kaki.”
Aku tetap menggandeng Ugi dan mulai berjalan. Mas Puru yang sedari tadi cuma diam aja tampak bingung, mungkin dia juga kecewa karena yang diajak pulang bareng kan aku, tapi aku malah ngajak Ugi juga. Akhirnya kita pulang bertiga, jalan kaki. Sepedanya mas Puru? Nah itu dia, sepedanya dituntun. Hahaha…
Begitulah yang terjadi setiap pulang sekolah, meskipun mas Puru pernah bilang kalau dia ga suka pulang bertiga, tapi aku ga mau. Aku tetep aja ngajak Ugi. Pernah suatu kali pas pulang bareng, kita jalan lewat jalan lain ga seperti biasanya. Pas lewat daerah yang banyak semak-semak dan pohon-pohon tinggi, saat lagi asik ngobrol sambil jalan, terdengar bunyi “kresek…kresek..” dibalik semak-semak. Kami berhenti dan memperhatikan ke arah suara itu dan ….
Hwaaaaa… Anjiiiiing!!
Tanpa pikir panjang, kami langsung lari dari kejaran anjing itu. Untungnya ada warga situ dan kami pun terselamatkan.
Hari berganti.. bulan berlalu.. mas Puru yang saat itu sudah kelas 3, lulus dan melanjutkan ke SMA. Begitu banyak kenangan yang dilalui, mulai dari pertama bertemu, kirim-kiriman surat, pulang sekolah bertiga, yang paling ga enak adalah dijutekin cewe-cewe yang pada naksir sama mas Puru (mulai dari fans-nya yang seangkatan sama aku sampai kakak kelas).
3 tahun kemudian, ternyata aku diterima di SMA yang sama dengan mas Puru dan kebetulan kelasku berhadapan dengan kelasnya. Terus pas ketemu di SMA, rasanya masih sama ga? Ngga! Hahaha. Rasanya biasa aja, paling cuma saling sapa aja, ga pernah ngobrol sama sekali. Hmm.. mas Puru udah ga sekeren SMP dan dia udah punya cewe.
Sekarang mas Puru sudah punya istri. Komunikasi kami baik-baik saja sampai saat ini, dia aku anggap seperti kakakku sendiri.


So, buat para ababil… ga usah deh yang namanya putus trus lama move on atau malah musuhan, kan mending sodaraan. Begitu lebih baik!
*sok tua banget ya gw*
^-^

Bizarre Love [NOT] Triangle Part 2





Siang itu… surya membelai bumi…
Ku terima sebuah undangan…
Ku buka dan ku baca…
Sampul berwarna merah…
Ada namamu…
Ku berlinang air mata
Ku harap kau bahagia…
Dengan gadis pilihan orangtuamu…
Biarlah ku mengalah…
Demi keutuhan engkau dan dia…
Walau hati ini luka…
Sendiri lagi… sendiri lagi…
Tanpa dirimu disisiku…
Sendiri lagi… sendiri lagi…
Ku coba untuk melupakanmu…
Sudah suratan harus begini…
Oh Tuhan tabahkanlah hati ini…

Hahaha… Sebenernya lagu ini ga ada hubungannya dengan cerita yang akan di tulis, Cuma tiba-tiba aja terngiang lagu Nike Ardila – Biarlah ku mengalah. Jadi inget pernah nyanyi lagu itu pas siang-siang pulang sekolah kelas 5 SD sambil jalan pepanasan turun dari angkot menuju rumah.
Kembali ke laptop!
Siang itu Via terkejut mendapati sebuah message di whatsapp. Sebuah nama tertera di layar tabletnya.
Tito

Pikiran Via pun secara otomatis flashback ke masa lalu. Mulai dari pertama bertemu di bandara, jalan-jalan bareng, berantem, kebiasaan bohongnya, kebiasaan menghilangnya sampai akhirnya harus berpisah tanpa kata di stasiun.

Tito: “Maaf ya beib lama gk ngabarin”

Wow… yang selama ini hilang bagai ditelan bumi, tiba-tiba muncul. Entah kenapa terbesit dalam pikiran Via kalau Tito sudah menikah, tapi Via sendiri masih ragu akan dugaannya itu. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Via membalas.

Via: “Sibuk banget kaaah? Atau udah merit? Hehehe”

3 menit kemudian ada balasan.
Tito: “Sibuk kerja sama tidur. Hotel lagi rame banget. Kemaren sempet sakit juga. Iya beib, maaf banget yaaa. Bukan gk mau komunikasi, beib. Cuma berharap gimana kalo aku udah nikah? Apa masih kaya gini? Apa my beiby masih anggap aku “my beiby” seperti yang aku lakuin?”

Dan chatting-an pun berlanjut.
Via: “Uhmm.. mana aku tahu kalo sakit segala. Ooh jadi beneran udah nikah?”

Tito: “Gimana kabar disana?”

Via: “Kabarnya sehat. Jadi beneran udah nikah?”

Tito: “Alhamdulillah kalo sehat. Akhir tahun pulang ke rumah gk? Kayanya ada yang abis bikin rumah nih. Bangunnya dmn?”

Via: “Di deket rumah mama. Iiih kok ga di jawab sih. Ngaku aja kali, kejujuran itu lebih berharga daripada kebohongan yang paling indah.”

Tito: “Oalah bangun rumah disana to. What if I say yes or no?”

Via: “Kalo emang udah, ya Alhamdulillah.”

Tito: “Hmmmmmm… Pelarian atau penantian tak kunjung usai ya?”

Via: “Maksudnya gimana?”

Tito: “Ya udah buat PR aja.”

Via: “Hmmm…udh kebanyakan PR! Ya udah kalo ga mau jelasin, padahal tadinya aku mau bilang sesuatu.”

Tito: “Mau bilang apa? Ya bilang aja beib, semisal salah ngomong juga gk apa-apa. U always be my beiby.”

Via: “Ogah..! Aku nanya aja belum di jawab.”

Tito: “Yaelah, udah dikasih clue-nya, dipilih aja salah satu beib.”

Via kembali me-review message sebelumnya dan 2 menit kemudian dia membalas…
Via: “Oalahhh…maksudnya mau bilang “Aku udah nikah, tapi aku ga mau bilang coz takut my beiby perasaannya jadi berubah ke aku. Aku akhirnya nikah karena pelarian atau penantian yang tak kunjung usai. But don’t worry coz U always be my beiby. Begitu kaaaaaaaaaaaaah?”

Tito: “Woooowww…. Tepuk tangaaaaan”

Via: “Yaelaaah ngaku begitu doank susah amat. Selamat ya, beib..”

Tito: “Mesti dikasih selamat ya? :-( Hmmm..”

Via: “Kan selamat itu doa, biar selalu selamat dan sehat. Trus jadinya nikah sama mba2 yang dulu itu?”

Tito: “Sama simbah2!”

Via: “Diiih ditanya malah kaya gitu jawabnya. Tanggal berapa nikahnya?”

Tito: “Emang penting ya, beib?

Via: “Penting doooonk, kan biar tahun depan aku bisa ngirim kado.”

Tito: “Hadeehh, gk usah repot-repot. Tanggal 32!”

Via: “Iiiih yang bener atuh…”

Tito: “Hmmm… terserah my beiby aja mau tanggal berapa. Pilih aja tanggalnya!”

Begitulah percakapan itu berakhir "menggantung" tanpa ada kejelasan.
Via akhirnya memutuskan untuk membuka Facebook, padahal selama ini dia sangat tidak berani untuk membuka FB-nya Tito karena takut bila melihat hal-hal yang tidak seharusnya dia lihat. Kali ini rasa penasarannya lebih besar dari rasa takutnya. Dan benar saja, ternyata Tito sudah menikah sejak 6 bulan yang lalu. 
Uwoooww !!!
Via menarik napas panjang, kemudian dia tersenyum sambil membatin…
 “Tuhan sudah mengatur segalanya dengan baik dan apapun yang telah terjadi pasti itu juga yang terbaik.”
 
^_^ 

16 October 2013

Air oh Air...

Pengen nangis, tapi terlalu cengeng rasanya...
Air dari saluran baunya sangat menyengat, udah kaya bau got. Meskipun air tersebut cuma dipakai untuk mandi dan nyuci, tapi tetep aja ga enak pas kehirup. Air sumur cuma bisa disedot pagi dan sore aja, itu pun paling banter dapet 2 ember @20 liter.
Hampir 3 bulan ini ga turun hujan, sumber air bahkan sungai pun mengering, padahal disini terkenal dengan pulau yang banyak sungainya, ternyata ga menjamin banyak air bersihnya. Semalam hujan turun lumayan deras, Alhamdulillah bs nadah air di ember trus dimasukin ke sumur, dapat sekitar 7 ember. Pagi tadi aku coba untuk menyalakan sanyo, ternyata airnya coklat. hikss.. baru dapat 3 ember, eh listriknya mati.

Semoga aku bisa segera pindah dari sini ke daerah yang lebih baik (menurutku).
Amiin...amiin ya rabbal'alamin.

VuL oF LuV