10 March 2014

The Unforgettable Love (chapter I)





Cinta Pandangan Pertama

28 September 2001

Sore itu kulihat seorang gadis berdiri di sebrang ruanganku sambil memegang sebuah buku, rasa lelah terlihat diwajahnya. Saat itu aku ikut organisasi perkumpulan pengusaha yang mengadakan seminar di salah satu hotel berbintang di Jogja. Melihat gadis tadi, terbesit rasa iba dalam hatiku. Aku mendekatinya seraya membawakan sebuah kursi.
“Mau duduk?” Kataku sambil menaruh kursi disampingnya.
“Iya.” Jawabnya.
“Pake aja kursiku, soalnya kalo kerja aku ga duduk.”
“Oke, makasih ya.”
“Sama-sama."
Tampak senyum manis terpancar dari wajahnya, sesaat aku terbuai dengan senyuman itu hingga aku tersadar harus menggandakan materi seminar. Mesin photocopy yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat gadis itu berada membuat aku sesekali memandangnya. Senyum, tawa dan gerak-geriknya memancarkan kecantikan yang membuatku kagum. Dengan ramah, dia menawarkan produk fashion dari Butik tempat dia bekerja. Aku terpana! Ooh tidak, mungkinkah aku jatuh cinta pada pandangan pertama?
Akhirnya urusan per-photocopy-an selesai juga, kuhisap sebatang rokok untuk menghilangkan penat dan kali ini kuberanikan diri mendekati gadis itu lagi.  Kupikir kesempatan tak akan datang dua kali, mungkin saja besok aku tak bertemu dia lagi. Kami pun berkenalan. Namanya Nina, tak terlihat rasa canggung pada dirinya meski kami baru saja kenal. Kami mengobrol cukup lama, dan akhirnya dia berkata
“Ini nomor telepon kantorku, kalo mau telepon antara jam 12.00 – 13.00 ya”
“Oke.” Jawabku.


Seminggu kemudian. 
“Hallo…” terdengar suara diseberang pesawat telepon.
“Hallo, bisa bicara dengan Nina? Kataku.
“Saya sendiri. Ini siapa?”
“Fauzan”
“Hai, apa kabar?”
“Baik. Gimana kabarmu?”
“Alhamdulillah baik.”
“Ga sibuk, kan?”
“Ga kok, kan jam istirahat”
“Udah makan siang?”
“Belum, tapi tenang aja aku udah bawa bekal makan siang, jadi ga perlu keluar kantor.”
“Maaf ya kalo aku ganggu waktu istirahatmu. Kapan-kapan boleh ketemu kamu ga?” “Boleh. Datang aja kesini pas jam istirahat.”
Tiba-tiba terdengar suara pintu box telepon umum diketuk dari luar dan tampak seorang laki-laki berdiri dengan wajah kesal.
“Nina, udah dulu ya. Makasih udah mau ngobrol sama aku.”
“Iya sama-sama, makasih juga udah mau telepon aku.”
Telepon pun kututup, aku buru-buru keluar dari box dan berjalan kearah gerbang kampusku yang terletak di wilayah Barek.

13 Oktober 2001

Kami telah janjian untuk ketemu hari itu, tepat satu hari setelah hari ulang tahunnya.
“Hmmm… mau makan dimana?” Ucapnya.
“Terserah kamu, kan kamu yang tau daerah ini.” Jawabku.
“Ok. Kamu suka burger?”
“Suka.”
Kami pun berjalan menuju sebuah tempat makan yang khusus menjual burger, tak jauh dari tempat dia bekerja. Kami memilih tempat duduk. Dia tersenyum sambil menawarkan menu apa yang akan kupesan, lalu dia beranjak dari kursi dan menyerahkan kertas pesanan ke pelayan yang berdiri dekat kasir. Sementara itu aku merogoh kantong celana untuk memastikan sesuatu sebelum dia kembali ke kursinya. Sembari menunggu pesanan datang, kami mengobrol dan ….
“Selamat ulang tahun ya..” Kataku sambil meraih tangannya dan menggenggamnya. Aku keluarkan sebuah cincin perak dari kantong celanaku dan memasangkan di jari manisnya.
“Makasih ya..” Katanya. Dia tersenyum, tersipu malu.
“Sama-sama.” Jawabku.
Genggaman tanganku terlepas seiring datangnya pelayan yang membawa pesanan kami. Setelah burger habis dan sebelum kami berpisah, aku berkata padanya…
“Hmmm… kamu mau ga jadi pacarku?”
Sesaat dia terdiam, lalu berkata..
“Maaf… aku ga bisa jawab sekarang, datang aja dulu ke rumahku nanti aku kasih tau jawabannya.”
Aku menyetujuinya, kami janjian untuk bertemu di halte bus besok. Setelah dia membayar makan siang kami sebagai traktiran di hari ulang tahunnya, kami pun berpisah. Dia harus kembali bekerja.

14 Oktober 2001

Aku berjalan dari kos menuju utara kampus Kehutanan UGM untuk menunggu bus kota yang kearah Wirobrajan. Peluh mulai membasahi dahi dan tubuhku karena cuaca hari itu cukup panas. Bus yang aku tunggu pun datang dan membawaku ke Wirobrajan. Sesampainya disana Nina belum kelihatan hingga beberapa menit kemudian aku melihatnya turun dari sebuah bus dan berjalan kearahku.
Kami bergegas menaiki bus Jogja – Wates dan duduk berdampingan karena kebetulan ada 2 bangku yang kosong. Jantungku berdegup kencang, jujur saja aku merasa gugup duduk bersebelahan dengannya, apalagi saat secara tak sengaja kami bertatapan dan lagi-lagi aku terpana melihat senyum manisnya. Aku juga tak sabar ingin mengetahui apa kira-kira jawaban dia tentang pernyataanku kemarin.
Kami turun di pertigaan PLN. Nina memberitahukan alamat rumahnya dan menyuruhku untuk naik ojeg duluan. Aku menuruti saja apa katanya.  Abang tukang ojek membawaku sampai di depan rumah Nina.
“Permisi…!” Kataku.
“Ya, mau nyari siapa? Kata seorang wanita dari dalam rumah.
“Ninanya ada, mba?”
“Oohh.. dia lagi ke Jogja, tapi sebentar lagi juga pulang. Ayo masuk dulu.”
Ternyata wanita itu adalah kakaknya. Dia menanyakan namaku dan mengajakku mengobrol beberapa saat hingga akhirnya Nina datang, dia dibonceng seorang laki-laki dengan motor tua berwarna merah yang ternyata itu adalah teman kakaknya.
“Hai, udah lama nunggu?” Kata Nina.
“Ngga, baru aja kok.” Jawabku.
Kami bersandiwara di depan keluarga Nina, seolah-olah aku dan Nina tidak berangkat bersama. Aku berbincang bersama Nina dan keluarganya sampai sore, aku pun pamit pulang berbarengan dengan teman kakaknya tadi.

16 Oktober 2001

Hari itu aku menelepon Nina di tempat kerjanya. Setelah berbasa basi menanyakan kabar, kuberanikan diri menanyakan jawaban dia atas pernyataan cintaku yang masih di“gantung”nya.
“Oiya… tentang pernyataanku waktu itu, gimana jawabanmu?”
“Hmmm…iya, aku mau jadi pacar kamu.”
“Serius? Kamu yakin ama jawabanmu itu?”
“Serius! Karena kamu udah mau memenuhi permintaanku untuk datang kerumahku dan menemui keluargaku. Itu udah tanda bahwa kamu emang serius.”
“Aku emang ga pernah main-main dalam menjalani hubungan.”
“Iya, aku percaya.”
“Terima kasih atas kepercayaanmu.”
“Sama-sama.”
“Maaf ya, aku harus ke kampus, ada kuliah nih!”
“Oke, makasih udah nelpon aku.”
“Sama-sama, makaasih juga atas jawabannya.”
Dengan perasaan girang bukan main aku berlari masuk lewat gerbang belakang kampus. Sepanjang menyusuri koridor aku terus saja tersenyum layaknya orang gila yang baru saja kabur dari rumah sakit jiwa.

11 February 2014

Mimpi yang tak Seindah Kenyataan




Sirine ambulan akhirnya berhenti berbunyi seiring terhentinya mobil ambulan yang aku tumpangi. Setelah sekitar 30 menit perjalanan, kami sampai di sebuah Rumah Sakit Jantung paling terkenal di Negara ini. Hari mulai gelap, sayup terdengar suara adzan maghrib dari mushola di Rumah Sakit tersebut diantara derasnya hujan yang mengguyur sejak siang tadi. Nampaknya alam memberi sinyal kesedihan. Sore itu Dafa sedang bekerja di kantornya, tiba-tiba terdengar suara petir yang memekakkan telinga. Dia terjatuh di kamar mandi dan tak sadarkan diri. Seorang teman kantornya meneleponku dan aku segera datang ke kantornya bersama ambulan. Dalam perjalanan dia sempat sadar, matanya menatapku yang tepat duduk disamping kanannya dengan tatapan sayu. Bibirnya seolah ingin mengatakan sesuatu, namun tak terucapkan. Dia menggerakkan jari-jari tangannya perlahan dan menjangkau tanganku yang berada di samping ranjang pasien. Dingin. Ya, tangannya begitu dingin. Aku pun tak dapat berkata apa-apa, hanya air mata yang terus mengalir membanjiri pipiku. Tangannya menggenggam tanganku dengan erat sampai akhirnya tak terasa lagi genggaman itu karena dia kembali tak sadarkan diri hingga kami tiba di Rumah Sakit.
Para petugas medis dengan sigap menurunkan Dafa dari ambulan, dia kembali tersadar, kali ini dia memanggil namaku sambil mengangkat telapak tangannya. Aku yang sedari tadi selalu berada di samping ranjangnya, meraih tangannya yang sedingin es. Tiba-tiba dia berkata dengan perlahan
“Maafkan aku.. Maafkan aku tak bisa membahagiakanmu. Maafkan aku bila terlalu mencintaimu.”
Aku semakin sedih mendengar itu, air mataku mengalir semakin deras. Aku menangis sesenggukan. Inginku berteriak sekeras-kerasnya karena tak ingin ini terjadi, tapi lidahku serasa kaku, malah tangisanku yang semakin menjadi-jadi. Aku tak ingin terjadi apa-apa pada dirinya. Dia sudah aku anggap seperti kakakku sendiri, meski aku tahu dia menganggapku lebih dari itu. Kami terus berpegangan tangan sampai di pintu ruang UGD. Sesaat sebelum pintu dibuka, sebuah senyuman tersimpul dari wajahnya yang pucat pasi.
“Jaga dirimu baik-baik!” begitu katanya.
Genggaman tangan kami terlepas dan pintu UGD pun ditutup. Pikiranku tambah tak karuan setelah mendengar itu.
“Kakaaaaakk…jangan pergi! Jangan pergiiiiii !!! Kakak pasti baik-baik aja. Kakaaaaaakkk!!!” Aku terus berteriak seperti itu di balik pintu UGD sampai akhirnya seorang perawat menenangkan aku dan menuntunku ke tempat duduk di ruang tunggu.
Kepalaku rasanya berat. Setelah agak tenang aku berjalan menuju mushola untuk sholat maghrib. Selesai sholat aku berdoa sampai menjelang isya. Aku berdoa semoga Dafa baik-baik saja. Bayangan tentangnya pun muncul, ketika pertama kali kami bertemu di kampus. Aku dan dia berada di kelompok yang sama. Sejak itu kami mulai akrab. Saat dia berulang tahun, dia mentraktir makan malam aku dan pacarku. Saat aku sakit, dia mengantarkan makanan untukku. Saat aku ada tugas kantor keluar kota, dia mengantarku ke bandara. Saat kami meluangkan waktu bersama untuk menonton film di bioskop. Sampai saat suatu ketika secara tak sengaja dia membuat aku marah dan dari situlah aku baru tahu kalau dia menderita penyakit jantung. Sejak kecil dia sudah berteman dengan alat pacu jantung yang tertanam di dalam tubuhnya. Aku tahu bagaimana perasaannya terhadapku dan dia sangat baik padaku, namun aku tak memiliki perasaan itu. Aku menganggapnya sudah seperti kakakku sendiri. Meskipun dia juga tahu bagaimana perasaanku terhadapnya, itu sama sekali tidak merubah perasaan, sikap dan kebaikannya terhadapku. Semua bayangan itu muncul memenuhi kepalaku. Air mata yang tak hentinya mengalir sedari tadi, terus mengalir sampai adzan isya berkumandang. Setelah sholat isya, aku berjalan lemas menuju UGD. Pintunya masih tertutup, padahal waktu sudah 1 jam berlalu. Akhirnya aku menunggu di ruang tunggu sampai  tertidur.


Ting tong..ting tong..
Pagi itu nada dering whatsapp-ku berbunyi, aku terbangun dan membaca pesan yang masuk. Dari Dafa!
“Blue… semalem aku ngimpi. Aku masuk rumah sakit dan bla..bla..bla..(baca paragraph 1 - 3)”
OMG!! Untunglah semua itu hanya mimpi ^_^"





15 January 2014

Sehari Sial 3 Kali



Pernah ga sih kalian mengalami kesialan yang bertubi-tubi?
Pasti rasanya ga enak banget kan, ya?

Ini terjadi di suatu hari saat aku masih duduk di bangku kuliah. Berikut tokoh-tokoh yang ada dalam cerita ini:
Aku, itu udah pasti.
Diah, teman SMA yang ga sekelas tapi lumayan akrab.
Ucok, dipanggil begitu karna dia berasal dari Medan. Orangnya “selengek’an” padahal dia mahasiswa kedokteran. Ga kebayang deh gimana kalo dia jadi dokter beneran. Aku kenal dia pas sama-sama ngantri audisi AFI 3 di GSP UGM.
Ari, dia teman SMA-nya si Ucok.

Hari sebelumnya si Ucok nelpon ke kosan.
“Cha… besok ada kul ga?”

“Ga ada. Mang napa?”

“Temen SMA gue dari Cirebon lagi maen nih ke Jogja. Dia pengen jalan-jalan ke pantai. Kan ga enak kalo cuma berdua, lo bisa kan ikutan juga? Biar rame!”

“Uhmm..gimana ya… Oke deh, tapi gue ajak temen ya! Kan ga enak kalo gue cewe sendirian.”

“Ya udah ajak aja, asal dia punya motor ya, soalnya gue boncengan ama temen gue.”

“Siaappp bos!”

“Oke. Besok gue tunggu di depan Mandala Krida jam 8 pagi.”

Abis nerima telpon dari Ucok, aku langsung telpon Diah. Untungnya dia juga pas ga ada kuliah.

Keesokan harinya Diah menjemputku di kos dan kami pun langsung menuju tempat janjian. Sampai disana Ucok dan Ari udah siap, kami pun berangkat. Tak lama kemudian temannya Ucok menyusul, namanya Eki. Akhirnya kami berangkat menuju Gunungkidul berlima dengan susunan:
Ari dibonceng Ucok
Diah dibonceng aku
Eki sendirian

Brummm…..
Motor melaju dengan cepat biar ga kesiangan sampai di pantai. Setelah melewati lampu merah Jl. Wonosari tiba-tiba aku melihat 2 orang polisi di pinggir jalan. Aku panik! Perasaanku mengatakan ini pasti ada razia.
“Priiiitt… silakan berbelok ke kiri dan mengantri pemeriksaan!” Begitu kata salah seorang polisi.

Tuh kaaan bener, ada RAZIA !!! Setelah melewati 2 orang polisi tadi, sebelum berbelok untuk mengikuti perintahnya, aku langsung menghentikan motor dan tukar posisi dengan Diah. Kami pun masuk ke pemeriksaan.
“SIM? STNK?” Seru salah seorang polisi.

“Ini pak!” Kata Diah sambil menyerahkan SIM dan STNKnya.

“Bukan kamu! Itu yang di belakang, mana SIM kamu?!” Kata polisi itu.

“Kan yang bawa motor temen saya, pak.” Jawabku dengan hati dag dig dug.

“Tadi kan kamu yang mengendarai motor!” Kata polisi itu lagi.

Aduuh.. mampus deh, ternyata polisi itu melihat aku dan Dia bertukar posisi. Diah bingung, aku juga bingung.
“Sa ya ga pu nya SIM, pak!” Jawabku terbata-bata.

Ucok, Ari dan Eki mencoba membantu agar aku ga kena tilang, setelah melalui perundingan yang alot dan menghabiskan waktu sekitar 1 jam. Akhirnya harus membayar denda Rp 20.000,-. Perjalanan dilanjutkan. Kali ini aku ga berani lagi bawa motor, jadi aku yang dibonceng Diah. Aku masih sedih karena kejadian tadi, sepanjang jalan aku cuma diem aja, ga seceria pas berangkat. Pemandangan yang indah dan jalan yang berkelak-kelok pun tidak aku hiraukan.

Sampailah kami di Wonosari. Ketika melewati lampu merah, kami lihat lampu masih menyala kuning (urutan nyalanya Hijau-Kuning-Merah) karena itu kami tidak berhenti. Sekitar 500 meter dari lampu merah, tiba-tiba sebuah motor polisi menyalip kami dan menyuruh kami untuk ke pos. Aku dan teman-teman bingung. Sebagai warga Negara yang baik, kami menuruti saja perintah pak polisi itu. Sesampainya di pos, kami dituduh melanggar lampu merah. Kami semua tidak terima. Perdebatan pun terjadi. Pos polisi itu letaknya di pinggir lampu merah, sementara lampu merahnya itu menghadap ke jalan (membelakangi pos polisi). Semisalnya pun kami melanggar, tidak mungkin polisi yang di pos itu mengetahui rambu tersebut sedang berwarna apa. Kami tetap bertahan dengan argumen kami bahwa kami sama sekali tidak melanggar lampu merah, saat kami lewat lampu masih berwarna kuning. Namun apalah daya kami, meskipun kami berlima dan beliau itu hanya seorang diri, tapi beliau berseragam polisi. Kami mengalah. Beliau meminta kami untuk membayar pelanggaran sebesar Rp 40.000,-/motor. Kami tidak mau! Perdebatan yang alot kembali terjadi, akhirnya kami diminta membayar Rp 80.000,- (3 motor).

Huffttt… kali ini kami meneruskan perjalanan dengan tidak bersemangat, hingga akhirnya sampailah kami di Pantai Krakal lanjut ke Pantai Kukup, Baron dan Sundak. Main air, foto-fotoan dan minum es kelapa muda rupanya mampu mengembalikan mood baik. Kami kembali ceria. Waktu sudah mulai sore, kami bergegas pulang sebelum gelap. Maklum, jalan yang akan kami lewati naik turun dan berbela-belok, sementara tidak ada lampu jalan, rumah penduduk pun jarang, kanan kiri jalan lebih banyak hutan dan jurang.

Di tengah perjalanan hari mulai gelap, maghrib tepatnya. Tiba-tiba motor Diah berasa “gliyur” (bahasa Jawa, maksudnya tidak seimbang; oleng) dan tak lama kemudian….
Hwaaaa… bocorrrr!!!
Ban motor bagian belakang menginjak paku entah dimana. Ucok, Ari, dan Eki ikut berhenti. Ari turun dari motornya dan menuntun motor Diah. Ucok tetap di motornya tapi berjalan perlahan, sementara Eki mencari bengkel tambal ban. Kalo inget kejadian itu, iiihh serem banget! Kanan kiri pepohonan, gelap, penerangan cuma dari cahaya lampu motornya Ucok. Setengah jam berjalan, Eki kembali membawa berita baik, menunjukkan arah bengkel yang buka. Kami semua menuju kesana. 1 jam kami menunggu tambal ban dan perlajanan pulang dilanjutkan kembali.

Ternyata ada hikmahnya juga ban motor bocor, sehingga kami bisa melewati Bukit Bintang pada malam hari. Dari sana terlihat warna-warni lampu di kota Jogja, hilir-mudik pesawat yang landing dan take off, tampak menyatu dengan kelap-kelip bintang di langit. Setelah melewati hari yang penuh kesialan, akhirnya kami bisa bernapas lega di pinggiran Bukit Bintang sambil menikmati jagung bakar dan kopi panas dengan sesekali bersenda gurau.


Pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini adalah jangan pernah menyerah pada keadaan. Sesulit apapun itu, pasti akan ada kebahagiaan. Semangaattt!!!
(ceile gaya banget ini kata-katanya, yakin lo? Hahaha)

"There will be sunshine after the rain"


06 January 2014

The Boys Part 3 (Kalau cinta jangan maksa)




Badanku dulu tak begini…
Tapi kini tak kurus lagi…

Kebayang ga sih tinggi 160cm dengan berat badan kurang dari 40kg?
Kurus banget kan?
Rambut panjang berponi rata diatas alis, udah mirip helm.
Kulit item ngga, putih juga ngga, tengah-tengah gitu deh.
Gaya tomboy dan sporty, lengkap dengan lesung pipi yang bener-bener ada di tulang pipi, bukan di pipi.

Kalo pas kelas 1 SMP aku ke sekolah jalan kaki or naik bus, nah pas kelas 2 udah mulai males jalan kaki. Lebih pilih naik sepeda atau naik bus. Jarak dari rumah ke sekolah sekitar 1km, semisal naik bus cuma bayar Rp 100,- aja. Berhubung di rumah ada sepeda punya tante yang udah usang dan tak terpakai, aku pikir kenapa ga dibenerin aja kan lumayan buat dipakai sekolah. Cling! Bukan sulap bukan sihir, sepeda federal punya tante tampak seperti baru. Cat yang mengelupas udah ga kelihatan. Awalnya warna abu-abu dan biru, berubah jadi warna abu-abu dan oranye. Lebih ceria pastinya!

Ke sekolah sambil naik sepeda rupanya lebih menyenangkan, ga terlalu cape dan lebih cepat nyampe. Sekitar 2 bulanan naik sepeda, aku baru nyadar kalo setiap mau nyebrang di depan sekolah pasti di dekat gerbang selalu berdiri seorang anak kecil. Cowo imut, putih dan yang paling mencolok adalah bibirnya yang merah merekah. Serius! Mirip ama Macaulay Culkin pemeran Kevin dalam film Home Alone. Hahaha…

Awalnya aku pikir itu suatu kebetulan aja. Kebetulan pas aku sampai sekolah, kebetulan tuh bocah lagi berdiri di depan gerbang. Tapi aneh banget kalo itu kebetulan karena kejadiannya setiap hari begitu dan sejak aku sadar kalo dia memperhatikan aku, aku pasti melihat mukanya saat melewati gerbang sekolah dan sebuah senyuman pun terpancar dari wajahnya yang imut.

Aku ga tahu dia itu siapa dan kelas berapa karena seingatku anak-anak seangkatanku (kelas 2) ga ada yang mirip dia. Rasa penasaran pun terjawab ketika salah seorang adik kelasku, yang ternyata teman sekelasnya memberikan aku sepucuk surat. Ya, lagi-lagi surat. Maklum pada zaman itu belum ada HP or BB. Hahaha…

Jam istirahat belum berakhir, aku masuk kelas dan membuka surat itu. Isinya begini :
Halo Kak, boleh kah aku berkenalan? Maaf kalau aku terlalu lancang mengirimkan surat ini.
Aku tahu aku ini masih kelas 1, tapi saat pertama melihat Kakak rasanya ada yang berbeda dan sejak saat itu, setiap pagi aku selalu menunggu kakak di gerbang sekolah.
Aku berasal dari Lampung dan saat ini aku tinggal di rumah pamanku. Berikut ini biodataku:
Nama : Doddy P. P. (sengaja aku singkat)
Alamat : …….. (di keep aja)
TTL : Lampung, 13 Desember 1987
Hobi : Main bola (whahahaha…ngekek banget baca ini)
Oiya, kalo boleh aku minta biodatanya Kakak ya, biar aku bisa mengenal Kakak lebih jauh.
Mohon maaf bila ada salah-salah kata.
NB : Aku tunggu balasannya.

(tanda tangan)
Doddy

Hadeuuhh… abis baca itu surat aku langsung ketawa cekikikan, lucu banget ada anak kecil udah berani ngirim surat, mana isinya biodata pula dan yang lebih parahnya tercantum HOBI : MAIN BOLA. Hahaha…

Teruuuss, dibalas ga suratnya?
Uhmm… dibalas donk, tapi ga pake nyantumin biodata segala. Cuma kata-kata seperlunya, yang intinya kalo mau berteman sih oke-oke aja.

Selepas dari surat itu, beberapa waktu kemudian ada surat lagi yang datang. Waktu itu yang membawa adalah salah seorang teman sekelasku.
“Nih, ada titipan dari anak kelas 2B!” Kata temanku.

“Siapa?” Kataku.

“Baca aja sendiri, kan ada namanya!” Kata temanku dengan nada kesal.

(Catatan kaki: sebenarnya temanku ini suka sama aku dan aku juga suka sama dia, tapi kami sama-sama jaim. Nah, ternyata yang mengirim surat itu (anak 2B) adalah sahabatnya. Sementara si sahabatnya ini ga tahu kalau temanku itu suka sama aku. Makanya waktu dia menyerahkan surat, tampangnya jutek banget. Hahaha…)

Untuk menjaga perasaan temanku, surat itu tidak aku baca di kelas. Aku berjalan ke belakang sekolah, depan toilet, disanalah aku membacanya. Isinya tentang pengungkapan perasaan sekaligus nembak! Tertanda Suprayitno. Hffttt… yang mana lagi ini orangnya, mana namanya terdengar ”mistis” pula. Selesai membaca, tanpa pikir panjang aku langsung mengambil segayung air dari kamar mandi. Aku celupkan surat itu sampai kertasnya hancur, lalu aku bentuk seperti bola dan ku lempar ke atas genteng sekolahan. Beres!!

Dua minggu kemudian, saat istirahat, aku lihat seorang cowo sedang mengintip di jendela kelasku dari arah parkiran sepeda (sebelah kelasku adalah parkiran sepeda). Tampaknya dia berusaha untuk memanggilku tapi aku pura-pura tidak mendengarnya, hingga beberapa temanku yang ada di kelas membantunya.
“Tes, itu dipanggil ama Prayit.” Kata salah seorang temanku.

Mau tak mau akhirnya aku menoleh ke arah cowo yang wajahnya terpampang di jendela. OMG! Jadi itu yang namanya Prayit, ga tinggi ga pendek, item dan agak gendut.
“Tes, kok suratku ga dibalas?” Kata Prayit.

“Ooh, belum sempet. Aku sibuk!” Jawabku dengan males-malesan, lalu aku menarik Ugi yang kebetulan ada disitu dan pergi ke kantin.

Beberapa hari kemudian, aku berpapasan dengan Prayit di dekat parkiran sepeda. Dia memberikan aku surat lagi. Surat kedua darinya berisi hal serupa dengan surat pertama dan surat kedua pun bernasib sama, aku celupkan ke air, aku bentuk seperti bola, lalu aku buang ke atas genteng sekolah. Karena merasa tidak nyaman ditagih terus, surat kedua aku balas. Dalam surat balasan aku menyatakan bahwa aku mau fokus belajar dan merasa lebih baik berteman saja. Setelah aku memberikan surat balasan padanya, keesokan harinya dia tidak masuk sekolah selama 3 hari berturut-turut. Salah seorang teman sekelasnya berkata padaku kalo Prayit stress gara-gara aku. Lha, kok aku? Aneh banget, itu mah dia sendiri aja yang bikin. Aku menolak bukan karna fisik lho ya, buktinya aku membuang surat pertamanya sebelum aku melihat wujudnya. Aku menolak karena menurutku isi suratnya terlalu memaksa, sementara aku aja ga kenal sama dia. Mas Sari yang udah kenal akrab aja aku tolak, apalagi ini. Ya kalo-kalo Prayit baca cerita ini, mudah-mudahan dia bisa mengerti. Piss Bro !!

Oiya, buat sekolah SMP ku…maaf kalo aku mengotori genteng. Sebenarnya bukan cuma 2 surat itu aja yang aku lempar ke genteng. Ada beberapa surat dari beberapa orang juga. Kebetulan SMP ku itu dekat ama SMK PGRI (sekolahannya mas Sari) dan SMK BOPKRI. Aku juga heran kenapa anak-anak di SMK tersebut banyak yang kenal aku, padahal aku ga pernah kenalan sama mereka dan beberapa dari mereka mengirimkan surat. Aneh-aneh deh isinya, tapi ya tetap seputaran perasaan. Berhubung aku ga kenal dan ga tau yang mana orangnya, cuma lihat namanya aja di surat, walhasil nasib surat mereka berakhir di genteng sekolahan. Hehehe…

Hikmah dari cerita kali ini adalah “Jangan terlalu memaksakan kehendak, hormatilah perasaan oranglain.”


Semua cerita tentang “Boy” ditulis kurang lebih seperti aslinya karena udah lama jadi agak lupa-lupa inget, tapi kalo intinya inget banget. Bukan bermaksud riya’ atau sombong, semua cerita ini ditulis hanya untuk mengenang masa lalu aja lho yaa...



VuL oF LuV